Search This Blog

Monday, August 19, 2019

Makalah MIKOLOGI




MIKOLOGI

Mikologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang jamur (Fungi) ada juga orang-orang yang menyebutnya cendawan. Mikologi sendiri berasal dari kata ‘mykes’ yang berarti myceane yaitu salah satu kelompok mushroom (jamur mikro) dan dari kata logos yang berarti ilmu. Sehingga mikologi itu merupakan ilmu yang mempelajari tentang jamur dan pemanfaatannya dalam kehidupan manusia. Kajian dalam mikologi meliputi:
  1. Taksonomi jamur
  2.  Fisiologi jamur
  3.  Bioteknologi jamur
  4. Budidaya jamur 
1.1 Taksonomi Fungi
Jamur diklasifikasikan menjadi empat divisi.
    *
  1. Ascomycota, atau jamur kantung, menghasilkan spora dalam kantung berbentuk cangkir disebut ASCI. Contoh jamur kantung cendawan tanah dan ragi tepun
  2. Basidiomycota, atau klub jamur, spora memiliki ditanggung pada kasus spora klub-berbentuk disebut basidium. Contoh klub jamur adalah jamur dan engah-bola.
  3. Zygomycota, atau zigot pembentuk jamur, yang ditemukan pada keju, roti dan makanan membusuk. Spora mereka diproduksi dalam kasus berbentuk bulat disebut sporangia.
  4. Deuteromycota, atau jamur yang tidak sempurna (Fungi Imperfecti), kekurangan reproduksi seksual. Mereka berkembang biak dengan spora aseksual yang disebut konidia. Contohnya jenis jamur yang menyebabkan kurap dan jamur kulit.

A.      Ciri-ciri jamur Ascomycota:

a.       Bersel satu atau bersel banyak.
b.      Mempunyai alat pembentuk spora yang disebut askus, yaitu suatu sel yang berupa gelembung atau tabung tempat terbentuknya askospora. Askospora merupakan hasil dari reproduksi generatif.
c.       Hifa bersekat-sekat dan di tiap sel biasanya berinti satu.
d.      Ada yang brsifat parasit, saprofit, dan ada yang bersimbiosis dengan ganggang hijau dan ganggang biru membentuk lumut kerak.
e.       Dinding sel terbuat dari zat kitin.
f.       Reproduksi seksual dan aseksual.
Contoh jamur ascomycota diantaranya adalah Penicillium notatum, untuk pembuatan antibiotik penisilin, dan Aspergillus wentii, untuk Pembuatan kecap dan Tauco.


B.                 Basidiomycota
Istilah “basidiomycota” berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata basidium yaitu suatu tahapan diploid dalam daur hidup Basidiomycota yang berbentuk seperti gada. Pada umumnya jamur ini merupakan saproba yang penting. Aktivitasnya adalah menguraikan polimer lignin pada kayu dan berbagai bagian tumbuhan yang lain. Divisi Basidiomycota sering disebut juga sebagai the club fungi atau yang sering disebut jamur pada umumnya (cendawan atau mushrooms). Jamur ini bereproduksi secara seksual dengan membentuk basidia yang kemudian menghasilkan basidiospora di dalam tubuh buah yang disebut basidioma atau basidiokarp
Ciri-ciri jamur Basidiomycota:
Secara umum, ciri-ciri atau karakteristik jamur yang termasuk dalam divisi Basidiomycota antara lain sebagai berikut.

  1. *      Multiseluler (bersel banyak).
  2. *      Merupakan jamur makroskopis, dapat dilihat langsung, dan mempunyai ukuran besar.
  3. *      Bersifat saprofit atau parasit pada organisme lain dan mikoriza.
  4. *      Semua anggota divisi Basidiomycota berhabitat di darat.
  5. *      Hifanya bersekat (septat), mengandung inti haploid dengan sambungan apit (clamp connection).
  6. *      Mempunyai tubuh buah yang bentuknya seperti payung yang terdiri dari bagian batang dan tudung. Pada bagian bawah tudung tampak adanya lembaran-lembaran (bilah) yang merupakan tempat terbentuknya basidium. Tubuh buah disebut basidiokarp.
  7. *      Bentuk tubuh buah bervariasi, ada yang seperti payung, bola, papan, lembaran berleku-lekuk dan sebagainya.
  8. *      Tubuh buah disebut basidiokarp, terdiri atas jalinan hifa bersekat dan dikariotik (setiap intinya berpasangan).
  9. *      Warna tubuh buah beraneka ragam (bewarna-warni).
  10. *      Sebagian besar dapat dikonsumsi, namun ada beberapa jamur dapat pula mematikan. Beberapa anggota dari genus Amanita mengandung racun yang sangat mematikan. Beberapa jenis Basidiomycota juga dapat membahayakan tumbuhan, misalnya menyebabkan kematian pada tanaman ladang. Contoh Basidiomycota lainnya, yaitu Auricularia polytricha (jamur kuping), Volvariella volvaceae (jamur merang), dan Ganoderma.
  11. *      Reproduksi secara seksual dengan membentuk basidiospora dan dan jarang melakukan reproduksi aseksual yaitu dengan fragmentasi hifa.
  12. *      Basidiospora terbentuk di luar basidium.
  13. *      Setiap basidium mengandung 2 atau 4 basidiospora, masing-masing berinti satu dan haploid. Seluruh basidiospora berkumpul membentuk tubuh buah (basidiokarp).
  14. *       Basidiokarp sering membentuk struktur seperti batang yang disebut stalk dan seperti payung yang disebut tudung.
  15. *       Memiliki tiga jenis Miselium yaitu primer, sekunder dan tersier.

C.     Zygomycota


Zygomycota, atau jamur konjugasi, termasuk jamur, seperti yang menyerang roti dan produk makanan lainnya. Karakteristik untuk mengidentifikasi dari Zygomycota adalah pembentukan zygospora selama reproduksi generatif dan tidak adanya dinding sel hifa kecuali dalam struktur reproduksi.

Ciri-ciri Zygomycota antara lain:
1.         Bersifat multiseluler
2.         Hifa tidak bersekat
3.         Senositik yang artinya zygomycota mempunyai hifa senositik, yaitu hifa yang mengandung banyak inti dan tidak mempunyai sekat melintang, jadi hifa berbentuk satu tabung halus yang mengandung protoplast dengan banyak inti.
4.         Tidak memiliki tubuh buah
5.         Ada yang memiliki rizoid dan stolon
6.         Reproduksi secara vegetatif (fragmentasi hifa, membentuk sporangiospora) dan generatif (menghasilkan zigospora), hidup saproba/parasit/simbiosis mutualisme.


D.                Deuteromycota

Jamur Deuteromycota adalah jamur yang berkembang biak dengan konidia dan belum diketahui tahap seksualnya. Tidak ditemukan askus maupun basidium sehingga tidak termasuk dalam kelas jamur Ascomycota atau Basidiomycota. Oleh karena itu, jamur ini merupakan jamur yang tidak sempurna (jamur imperfecti).Selain dengan konidia, reproduksi jamur Deuteromycota secara aseksual juga dapat dilakukan dengan membentuk blastospora (berbentuk tunas) dan artrospora (pembentukan spora dengan benang-benang hifa). Dengan demikian, beberapa jenis jamur yang belum diketahui alat reproduksi generatifnya dimasukkan ke dalam divisi Deuteromycota. Deutermycota atau the imperfect fungi tidak mengalami reproduksi seksual atau mereka menunjukkan tahap aseksual (anamorph) dari jamur yang memiliki tahap seksual (teleomorph).

Jamur Deuteromycota menyerupai Ascomycota (septanya sederhana). Jadi, kelompok jamur ini bisa dikatakan sebagai “keranjang sampah”, tempat sementara untuk menampung jenis-jenis jamur yang belum jelas statusnya. Apabila pada penelitian berikutnya ditemukan cara reproduksi seksualnya, maka suatu jenis jamur anggota Deuteromycota akan bisa dikelompokkan ke dalam divisi Ascomycota atau divisi Basidiomycota. Sebagai contoh jamur Monilia sitophila (jamur oncom), sebelum diketahui reproduksi seksualnya digolongkan pada Deuteromycota, tetapi sekarang setelah diketahui reproduksi seksualnya yaitu dengan menghasilkan askospora di dalam askus (peritesium), dikelompokkan ke dalam Ascomycota dan diganti dengan nama Neurospora sitophila atau Neurospora crassa.

Secara umum, ciri-ciri atau karakteristik jamur yang termasuk dalam divisi Deuteromycota antara lain sebagai berikut.

*
  1.  Multiseluler (bersel banyak) yang membentuk hifa tak bersekat, namun beberapa jenis merupakan organisme bersel tunggal yang membentuk pseudomiselium (miselium semu) pada kondisi lingkungan yang menguntungkan.
  2. *   Sebagian besar mikroskopis (tidak dapat diamati dengan mata telanjang).
  3. *   Dinding sel terbuat dari zat kitin.
  4. * Pada jenis-jenis tertentu ditemukan hifa bersekat dengan sel yang berinti satu, namun kebanyakan berinti banyak..
  5. *   Terbentuk spora secara vegetatif dan belum diketahui fase kawinnya sehinga disebut jamur tidak sempurna atau imperfekti.
  6. *  Berkembang biak dengan membentuk spora aseksual melalui fragmentasi dan konidium yang bersel satu atau bersel banyak. Sedangkan reproduksi seksual belum diketahui.
  7. * Banyak yang bersifat merusak atau menyebabkan penyakit pada hewan-hewan ternak, manusia dan tanaman budidaya.
  8. *   Hidup secara saprofit maupun parasit.                       
  9. *   Biasanya berhabitat di tempat yang lembab.
1.2 FISIOLOGI JAMUR

      Di alam bebas jamur merupakan pengurai sampah organik. Jika tidak ada jamur kemungkinan bumi kita ini akan penuh dengan sampah. Namun, walaupun demikian ternyata tidak semua jamur dapat dimanfaatkan oleh manusia. sebagian dari jenis jamur ada yang beracun. Untuk itu supaya kita terhindar dari jamur yang beracun perlu untuk mengetahui berbagai jenis jamur.


Ciri-Ciri Jamur Secara Umum
1.      Jamur memiliki jenis ataupun spesies yang tidak sedikit. Untuk itu perlu untuk kita mengetahui ciri-ciri jamur secara khusus, yaitu:
a.       Tidak memiliki kromatofora atau klorofil, sehingga umumnya tidak berwarna dan hidup sebagai parasit atau saprofit dan bersifat heterotrof. Jamur sendiri ada yang hidup di dalam air, sebagian besar di daratan serta jarang sekali terdapat di laut.
b.      Inti sel eukariotik (mempunyai inti sel yang sejati).
c.       Dinding sel tersusun atas zat kitin dan bukan selulosa kecuali jenis jamur oomycotina.
d.      Hidup di tempat lembab dengan PH tanah yang bersifat asam karena tempat tersebut kaya akan zat organik.
e.       Cadangan makanan disimpan dalam bentuk glikogen.
f.       Sesuai dengan jenisnya jamur dapat berkembang biak secara vegetatif maupun generatif. Sehingga dapat berbentuk sel hidup yang haploid dan juga diploid.

2.      Perkembangbiakan secara vegetatif dengan menggunakan tunas, spora, membelah diri, dan dengan cara konodia.
3.      Perkembangbiakan secara generatif dengan cara konjugasi dan juga dengan spora seksual. Selain itu dapat berlangsung dengan berbagai cara, yaitu: isogami, anisogami, oogami, gametangiogami (perkawinan dengan dua gametangium yang berbeda jenis kelaminnya). Dan somatogami ( perkawinan dua sel talus yang tidak mengalami perbedaan).
4.      Bagian tubuh jamur yang vegetatif tersusun atas hifa (benang – benang halus). Hifa ada yang bersekat dan ada yang tidak.
5.      Perkembangbiakan dengan spora, jika pada jamur yang hidupnya di air disebut spora kembara yang mempunyai bulu cambuk.
6.      Jamur yang hidup di darat bisa menghasilkan spora yang terbentuk di dalam askus.
7.      Beberapa dari jenis jamur dapat mengubah sel-sel tertentu menjadi alat untuk mengatasi saat kondisi yang buruk.


1.3 BIOTEKNOLOGI JAMUR
1.3.1 Pengertian Bioteknologi
Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan ‘teknologi’ yang berarti cara untuk memproduksi barang. Dengan definisi tersebut bioteknologi bukan merupakan sesuatu yang baru. Nenek moyang kita telah memanfaatkan mikroba untuk membuat produk-produk berguna seperti tempe, oncom, tape, arak, terasi, kecap, yogurt, dan nata de coco . Hampir semua antibiotik berasal dari mikroba, demikian pula enzim-enzim yang dipakai untuk membuat sirop fruktosa hingga pencuci pakaian.
Bioteknologi adalah penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa genetika secara terpadu, untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia. Biokimia mempelajari struktur kimiawi organisme. Rekayasa genetika adalah aplikasi genetik dengan mentransplantasi gen dari satu organisme ke organisme lain.
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakterifungivirus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim,alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Menurut Jujun Ratnasari, S.Si., M.Si., bioteknologi adalah manipulasi organisme atau komponen organisme tersebut untuk melakukan tugas praktis, menghasilkan produk yang bermanfaat. Sejak berabad-abad bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme telah berlangsung secara tradisional, seperti pada proses pembuatan anggur, bir, keju, sake, dan lain-lain. Proses tradisional ini hanya menggunakan dan mengandalkan proses genetik alami dari mikroba.
Bioteknologi merupakan suatu usaha terpadu dari berbagain disiplin ilmu untuk mengolah bahan baku dengan memanfaatkan mikroorganisme dan komponen-komponen  lainnyauntuk menghasilkan barang dan jasa. Disiplin ilmu yang terlibat dalam bioteknologi, di antaranya Kimia, Biokimia, Rekayasa Biokimia, Teknik Kimia, Mikrobiologi, dan tentunya Biologi.
1.3.2 Prinsip-prinsip Dasar Bioteknologi
Ada beberapa proses yang merupakan prinsip dasar dari bioteknologi, yaitu fermentasi, seleksi dan persilangan, analisa genetik, kultur jaringan, rekombinasi DNA, dan analisa DNA.
1. Fermentasi
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam seldalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi,terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.Fermentasi merupakan proses dasar untuk mengubah suatu bahan menjadi bahan lain dengan cara sederhana dan dibantu oleh mikroorganisme. Proses fermentasi ini merupakan bioteknologi sederhana dan sudah dikenal sejak jaman dahulu. Contohnya pembutan roti, minuman anggur, yoghurt, tuak dan sake.
2. Seleksi dan Persilangan
Proses seleksi dilakukan dengan memenipulasi DNA yang ada pada mikroba, tanaman, atau hewan agar menjadi mikroba, tanaman, atau hewan dengan sifat yang lebih baik sehingga apabila disilangkan akan menjadi bibit unggul yang baik untuk masa depan. Contohnya, ayam Leghorn, sapi ayrshire, padi Cisadane kedelai Muria, dan jagung Metro.
3. Analisa Genetik
Proses ini mempelajari cirri atau sifat dan gen makhluk hidup dari generasi ke generasi untuk mendapatkan sifat atau ciri yang unggul serta interaksi antara gen dan lingkungan agr menghasilkan keturunan yang baik.
4. Kultur Jaringan
Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro, sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabunginkubasi atau cawan Petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. Kultur jaringan secara teoretis dapat dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhanmaupun hewan (termasuk manusia) namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media tertentu. Selain itu, kultur jaringan diartikan juga sebagai proses menumbuhkan atau memperbanyak jaringan hewan dan tanaman dari jaringan atau selnya di dalam laboratorium tanpa mendapat gangguan dari organisme lain. Proses ini dimanfaatkan untuk perbanyakan, produksi bahan-bahan kimia, dan riset di bidang pengobatan. Contohnya kultur jaringan anggrek dan pisang.
Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan. Yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuhyang steril. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya. Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar. Nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan. Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi.Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkebang biakkarena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan - jaringan hidup.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan     adalah Pembuatan media, Inisiasi, Sterilisasi, Multiplikasi, Pengakaran, Aklimatisasi.
1.      Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
2.      Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. 
3.      Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu dilaminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.  
4.      Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan.  Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
5.      Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.  Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 
6.      Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. 
5. Rekombinasi DNA
Proses transfer segmen DNA dari satu organisme ke DNA organisme lain dinamakan rekombinasi DNA. Kedua organisme itu dapat saja tidak memiliki hubungan atau kekerabatan. Contohnya, penyisipan gen manusia pada bakteri Bacillus thuringiensis sehingga bakteri tersebut dapat memproduksi insulin.
Rekombinasi merupakan hasil teknologi atau rekombinasi DNA di laboratorium. Dengan teknologi DNA dapat diproduksi atau dibuat fragmen DNA tertentu. Enzim digunakan untuk memotong fragmen DNA dan menempelkan fragmen DNA ke tempat yang diinginkan.Enzim restriksi digunakan untuk memotong fragmen DNA menjadi fragmen-fragmen. Sementara enzim DNA ligase menyambungkan antar fragmen DNA. Dengan pemotongan dan penyambungan kembali bagian yang diinginkan dapat didesain urutan DNA sesuai kode yang diinginkan atau gen yang diinginkan.
Gen dapat diklon dalam plasmid rekombinan, plasmid buatan hasil rekombinasi. Plasmid adalah DNA sirkuler yang dimiliki bakteri dapat bereplikasi dan diturunkan ketika sel bakteri membelah. Plasmid diartikan juga sebagai salah satu vektor atau pembawa rekombinan gen atau rekombinan DNA. Gen yang telah diklon dapat disimpan dalam pustaka genom berupa plasmid rekombinan atau virus DNA rekombinan. Enzim reverse transcriptase dapat membuat DNA dari RNA dan kemudian DNA hasilnya dapat diklon. Molekul probe atau molekul penanda dapat digunakan untuk mengidentifikasi gen khusus yang dibawa suatu DNA (gen) klon. Ada alat otomatik untuk membuat proses sintesa DNA yang cepat dan mensekuens urutan DNA.
Metoda untuk menganalisa fragmen DNA hasil kerja enzim restriksi dan mendeteksi perbedaan fragmen yang dihasilkan telah ada Metode PCR dapat memperbanyak sampel DNA yang dituju. Rekayasa genetika pada sel bakteria, yeast, tanaman, hewan digunakan untuk menghasilkan produk gen secara massal. Kelebihan teknologi DNA atau rekayasa genetika menjadi penyebab revolusi pada industri farmasi dan pengobatan manusia, bidang pertanian, dan rekayasa genetika sudah sangat akrab, hewan transgenik dan pengembangan riset masa kini. Kekurangan teknologi DNA membawa risiko, menimbulkan pertanyaan etika yang penting.
6. Analisis DNA
Proses reaksi rantai polymerase sehingga dapat membuat kopi (salinan) dari DNA. Proses ini berguna untuk memetakan DNA sehingga dapat diketahui dengan pasti DNA dari satu organisme untuk menentukan genetik keturunannya. Teknik ini biasanya digunakan untuk mendapatkan atau mengenali DNA dari korban – korban kecelakaan yang sulit diidentifikasi oleh tim forensik.Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakterifungi,virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzimalkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimiakomputerbiologi molekularmikrobiologi,genetikakimiamatematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
Beberapa teknologi yang mendasari Bioteknologi adalah:
a.       Teknologi Antibodi Monoklonal (TAM)
TAM menggunakan sel-sel sistem imunitas yang disebut antibodi. Dengan mengetahui cara kerja antibodi, maka kita dapat memanfaatkannya untuk keperluan deteksi, kuantitasi dan lokalisasi. TAM saat ini telah digunakan untuk deteksi kehamilan, alat diagnosis berbagai penyakit infeksi dan deteksi sel-sel kanker.
b.      Teknologi Bioproses
Teknologi bioproses menggunakan sel-sel hidup atau komponen mekanisme biokimia untuk mensintesis, menguraikan atau membebaskan energi. Termasuk teknologi bioproses adalah fermentasi dan biodegradasi.
c.       Teknologi Sel dan Kultur Jaringan
Teknologi sel dan kultur jaringan adalah teknologi yang memungkinkan kita menumbuhkan sel atau jaringan dalam nutrien yang sesuai di laboratorium. Teknologi ini dapat dilakukan pada tanaman maupun hewan.
d.      Teknologi Biosensor
Teknologi biosensor merupakan gabungan antara biologi molekuler dan mikroelektronika. Teknologi biosensor dapat digunakan dalam berbagai bidang seperti pengukuran derajat kesegaran suatu bahan pangan, memonitor suatu proses industri, atau mendeteksi senyawa yang terdapat dalam jumlah kecil di dalam darah.
e.       Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika atau teknologi DNA rekombinan merupakan tulang punggung dan pemicu lahirnya bioteknologi molekuler. DNA rekombinan dikonstruksi dengan menggabungkan materi genetik dari dua atau lebih sumber yang berbeda atau melakukan perubahan secara terarah pada suatu materi genetik tertentu. Rekayasa genetik merupakan usaha manusia mencari varietas atau galur yang paling sesuai.
f.       Teknologi Rekayasa Protein
Teknologi rekayasa protein sering digunakan bersamaan dengan rekayasa genetika untuk meningkatkan profil atau kinerja suatu protein dan untuk mengkonstruksi protein baru yang secara alami tidak ada. Dengan teknologi rekayasa protein kita dapat meningkatkan daya katalisis suatu enzim, sehingga dapat lebih produktif pada kondisi proses-proses industri.

1.3.3 PERANAN JAMUR DALAM BIOTEKNOLOGI
1. Rhizopus oryzae dan Rhizopus oligosporus : pembuatan tempe
2. Rhizopus nigricans : menghasilkan asam fumarat
3. Mucor mucendo : terdapat pada roti dan kotoran hewan
4. Mucor javanicus : pada ragi tape dan mengubah tepung menjadi gula
5. Clamydomucor oryzae : pada ragi tape dan memecah protein menjadi lemak
6. Saccaromyces cerevicae : pembuatan tape dan roti
7. Saccaromyces ellipsoids : memfermentasikan anggur
8. Sacceromyces tuac : mengubah nira menjadi tuac
9. Penicillium notatum & Penicillium chrysogenum : penghasil antibiotik penisilin
10. Penicillium camemberti & Penicillium roquerforti : penurun kadar kasein pd keju
11. Aspergillus wentii : pembuatan kecap, sake, tauco
12. Aspergillus flavus : penghasil racun aflatoksin (penyebab kanker)
13. Aspergillus niger : menjernihkan sari buah
14. Aspergillus oryzae : pembuatan tape dari ubi kayu, sake dari nasi
15. Neurospora crassa : pembuatan oncom & penelitian mutasi gen pada jamur
16. Trichoderma rassei : penghasil enzim selulosa (bahan protein sel tunggal)

1.4 BUDIDAYA JAMUR
           untuk budidaya jamur dapat klik dibawah sini ...
  

           BUDIDAYA JAMUR



No comments:

Post a Comment