Search This Blog

Thursday, January 12, 2017

Drosophila melanogaster


GENETIKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Latar belakang pembuatan laporan mengenai Drosophila melanogaster atau Drosophila sp ini dikarenakan untuk memenuhi tuntutan dari mata kuliah genetika. Dengan kita melakukan praktikum drosophila kita melakukan serangkaian kegiatan mulai dari pembuatan medium tempat hidup drosophila yang terbuat dari bahan pisang dan tape singkong yang dihaluskan, kemudian kita melakukan praktikum mengenai drosophila mutan yang dikawinkan dengan drosophila normal. dalam mata kuliah genetika ini kami selaku mahasiswa dituntut agar dapat memahami dan mempelajari siklus hidup dari Drosophyla melanogaster mulai dari pembuatan kultur , penanaman lalat buah, serta pengamatan lalat buah mulai dari fase telur sampai lalat menjadi drosopyla dewasa . Tidak hanya mempelajari secara teori saja kita sebagai mahasiswa juga harus bisa pratiknya untuk itu kami melakukan praktikum untuk mencari tahu tentang bagaimana perkembangan lalat buah mulai dari fase telur hingga lalat menjadi lalat dewasa lagi, dengan demikian kami dapat mengetahui perkembangan siklus hidup lalat buah (Drosopyla sp)dari mulai telur -  larva - imago - lalat muda - lalat dewasa. Selain itu seperti kita ketahui bahwa lalat buah merupakan jenis serangga yang mudah untuk diamati karena tidak membutuhkan waktu yang lama dalam siklus hidupnya .untuk itu kita melakukan praktikum untuk mengetahui siklus hidup lalat buah seberapa lama untuknya dalam bereproduksi serta menghasilkan telur hingga menjadi drsophyla baru. Pada praktikum juga kita mengamati mutan-mutan pada drosophila bagaimana ciri-ciri drosopila mutan itu bagaimana bentuk, warna tubuh, warna mata serta bentuk sayap pada drosophila mutan.

1.2  TUJUAN

a.       Sebagai bahan pembelajaran untuk mahasiswa
b.      Untuk menambah ilmu dan wawasan
c.       Mengetahui siklus hidup Drosophla sp
d.      Mengetahui tahapan-tahapan dalam siklus hidup Drosophila melanogaster.
e.       Mengetahui lama dari tiap tahapan dalam siklus hidup Drosophila melanogaster.
f.         Mengetahui cara menangani dan memelihara Drosophila melanogaster.
g.      Mengetahui perubahan fenotipe pada drosophila.
h.      Dapat membedakan antara drosophyla mutan dan normal.
i.        Mempelajari penyilangan pada drosophila   


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DASAR TEORI
Drosophila adalah genus lalat kecil, milik keluarga Drosophilidae, yang anggotanya sering disebut "lalat buah" atau (lebih jarang) lalat pomace, lalat cuka, atau lalat anggur, referensi ke karakteristik banyak spesies untuk berlama-lama di masak atau buah-buahan membusuk. Mereka tidak boleh bingung dengan Tephritidae, keluarga yang terkait, yang juga disebut lalat buah (kadang-kadang disebut sebagai "lalat buah yang benar"); tephritids pakan terutama pada buah mentah atau matang, dengan banyak spesies yang dianggap sebagai hama pertanian yang merusak, terutama lalat buah Mediterania. Salah satu spesies Drosophila pada khususnya, D. melanogaster, telah banyak digunakan dalam penelitian dalam genetika dan merupakan organisme model umum dalam biologi perkembangan. Istilah "lalat buah" dan "Drosophila" sering digunakan secara sinonim dengan D. melanogaster dalam literatur biologi modern. Genus keseluruhan, bagaimanapun, mengandung lebih dari 1.500 spesies dan sangat beragam dalam penampilan, perilaku, dan habitat berkembang biak.
 Drosophila juga diklasifikasikan ke dalam sub ordo Cyclophorpha (pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw hooks) dan termasuk ke dalam seri Acaliptrata yaitu imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa (Wheeler, 1981).
Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya:
Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
   Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan        tubuhnya.
Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.
Sedangkan ciri-ciri yang membedakan Drosophila jantan dan betina antara lain:

Jantan
Betina
Ukuran tubuh lebih kecil dari betina
ukuran tubuh lebih besar dari jantan
sayap lebih pendek dari sayap betina
sayap lebih panjang dari sayap jantan
terdapat sisir kelamin(sex comb)
tidak terdapat sisir kelamin(sex comb)
ujung abdomen tumpul dan lebih hitam
ujung abdomen runcing

Drosophila aklasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Order: Diptera
Keluarga: Drosophilidae
Kaum: Drosophilini
Subtribe: Drosophilina
Infratribe: Drosophiliti
Genus: Drosophila
morfologi   Pandangan sisi kepala yang menunjukkan karakteristik bulu atas mata Drosophila adalah lalat kecil, biasanya berwarna kuning pucat sampai coklat kemerahan sampai hitam, dengan mata merah. Banyak spesies, termasuk sayap gambar-mencatat Hawaii, memiliki pola hitam yang berbeda pada sayap. The berbulu (berbulu) arista, meremang kepala dan dada, dan venasi sayap adalah karakter yang digunakan untuk mendiagnosa keluarga. Sebagian kecil, sekitar 2-4 milimeter panjang, tetapi beberapa, terutama banyak spesies Hawaii, lebih besar dari lalat rumah.
Habitat Drosophila yang ditemukan di seluruh dunia, dengan lebih banyak spesies di daerah tropis. Mereka dapat ditemukan di padang pasir, hutan hujan tropis, kota, rawa, dan zona alpine. Beberapa spesies utara hibernasi. Sebagian besar spesies berkembang biak dalam berbagai macam tanaman membusuk dan bahan jamur, termasuk buah, kulit kayu, fluks lendir, bunga, dan jamur. Larva setidaknya satu spesies, juga dapat memberi makan dalam buah segar dan kadang-kadang bisa menjadi hama.  Sebuah beberapa spesies telah beralih menjadi parasit atau predator. Banyak spesies dapat tertarik pada umpan pisang fermentasi atau jamur, tetapi yang lain tidak tertarik untuk setiap jenis umpan. Pria dapat berkumpul di patch substrat peternakan yang cocok untuk bersaing untuk perempuan, atau Leks bentuk, melakukan pacaran di daerah yang terpisah dari situs peternakan.Beberapa spesies Drosophila, termasuk D. melanogaster, D. immigrans, dan D. simulans, yang terkait erat dengan manusia, dan sering disebut sebagai spesies domestik. Ini dan lainnya spesies (D. subobscura, Zaprionus indianus ) telah sengaja diperkenalkan di seluruh dunia oleh aktivitas manusia seperti transportasi buah. ReproduksiPria dari genus ini diketahui memiliki sel sperma terpanjang dari setiap organisme dipelajari di Bumi, termasuk satu spesies, Drosophila bifurca, yang memiliki sperma 58 mm (2,3 in) panjang . Sel-sel yang sebagian besar ekor, dan dikirim ke betina dalam gulungan kusut. Para anggota lain dari genus Drosophila juga membuat relatif sedikit sel sperma raksasa, dengan D. bifurca menjadi terpanjang . D. melanogaster sel sperma adalah 1,8 mm lebih sederhana, meskipun hal ini masih sekitar 300 kali lebih lama dibandingkan sperma manusia. Beberapa spesies dalam kelompok melanogaster D. spesies diketahui kawin dengan inseminasi traumatis. Drosophila bervariasi dalam kapasitas reproduksi mereka. Mereka seperti D. melanogaster yang berkembang biak dalam jumlah besar, sumber daya relatif jarang memiliki indung telur yang jatuh tempo 10-20 telur sekaligus, sehingga mereka dapat diletakkan bersama-sama di satu situs. Lain yang berkembang biak di substrat lebih-berlimpah tapi kurang bergizi, seperti daun, hanya dapat berbaring satu telur per hari. Telur memiliki satu atau lebih filamen pernapasan dekat ujung anterior, tips ini memperpanjang di atas permukaan dan memungkinkan oksigen untuk mencapai embrio. Larva pakan bukan pada masalah sayuran itu sendiri tetapi pada ragi dan mikroorganisme hadir pada substrat peternakan membusuk. Waktu pengembangan bervariasi antara spesies (antara 7 dan lebih dari 60 hari) dan tergantung pada faktor-faktor lingkungan seperti suhu, pembibitan substrat, dan berkerumun.
Orang pertama yang menggunakan lalat buah (Drosophila melanogaster) sebagai objek penelitian genetika adalah Thomas Hunt Morgan yang berhasil menemukan pautan seks dan gen rekombinan. Ada beberapa keuntungan sehingga lalat buah banyak dijadikan objek kajian untuk kajian-kajian genetik, diantaranya:
1.    Lalat buah (Drosophila melanogaster) mudah dipelihara dalam laboratorium karena makanannya sangat sederhana, hanya memerlukan sedikit ruangan dan tubuhnya cukup kuat.
2.     Pada temperatur kamar (suhu ruangan), Lalat buah (Drosophila melanogaster) dapat menyelesaikan siklus hidupnya kurang lebih dalam 12 hari.
3.     Jumlahnya di alam sangat berlimpah dan mudah didapati.
4.     Lalat buah (Drosophila melanogaster) dapat menghasilkan keturunan dalam jumlah yang besar.
5.     Jumlah kromosom relatif sedikit, yaitu 4 pasang dan memiliki “Giant Chromosme”. kromosom ini terdapat dalam sel-sel kelenjar ludah yang besarnya 100 kali lipat dari kromosom biasa, sehingga mudah diamati di bawah mikroskop cahaya.
6.    Lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki berbagai macam perbedaan sifat keturunan yang dapat dikenali dengan pembesaran lemah. Lalat buah (Drosophila melanogaster) ini memiliki beberapa jenis mutan (individu yang dihasilkan karena adanya mutasi) yang dapat diamati dengan perbesaran yang lemah pula.
7.    Perkembangan dari siklus hidupnya mudah di amati, karena terjadi di luar tubuhnya mulai dari telur, larva, pupa hingga menjadi dewasa (imago).
Pada kesempatan kali ini kami telah mengamati daur hidup lalat Drosophila, daur hidup lalat Drosophila relatif pendek, terdiri atas tahap-tahap telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Fase perkembangan dari telur Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah ini. Siklus hidup Drosophila 





1. Telur

Individu betina dewasa bertelur dua hari setelah keluar dari pupa. Masa bertelur ini berlangsung lebih kurang selama 1 minggu, dengan jumlah telur 50 hingga 75 butir/hari. Telur diletakkan di permukaan makanan. Bentuknya oval, memiliki struktur seperti kait yang berfungsi sebagai pengapung untuk mencegah agar tidak tenggelam ke dalam makanan yang berbentuk cair. Diameternya 0,5 mm sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Tahap telur berlangsung selama lebih kurang 24 jam.

2. Larva

Larva berwarna putih dengan panjang 4,5 mm dan bersegmen. Mulut berwarna hitam dan bertaring. Larva hidup di dalam makanan dan aktivitas makannya sangat tinggi. Pada tahap larva terjadi dua kali pergantian kulit, dan periode di antara masa pergantian kulit dinamakan stadium instar. Dengan demikian, dikenal tiga stadium instar, yaitu sebelum pergantian kulit yang pertama, antara kedua masa pergantian kulit, dan setelah pergantian yang kedua. Di akhir stadium instar ketiga, larva keluar dari media makanan menuju ke tempat yang lebih kering untuk berkembang menjadi pupa. Secara keseluruhan tahap larva memakan waktu kira-kira satu minggu.

3. Pupa

Pupa memiliki kutikula yang keras dan berwarna gelap. Panjangnya 3 mm. Tahap pupa berlangsung sekitar lima hari.

4. Dewasa (imago)

Lalat dewasa yang baru keluar dari pupa sayapnya belum mengembang , tubuhnya berwarna bening. Keadaan ini akan berubah dalam beberapa jam. Lalat betina mencapai umur matang kelamin dalam waktu 12 hingga 18 jam, dan dapat bertahan hidup selama lebih kurang 26 hari. Ukuran tubuhnya lebih panjang daripada lalat jantan. Pada permukaan dorsal, abdomen lalat betina berwarna lebih gelap daripada lalat jantan. Sementara itu, pada bagian kaki lalat jantan terdapat struktur yang dinamakan sisir kelamin (sex comb). Lalat betina tidak memiliki struktur ini.



Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan.

Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa.
Struktur dewasa Drosophila melanogaster tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa.Seperti yang telah disebutkan di atas, lamanya siklus hidup Drosophila dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster ini diantaranya sebagai berikut

Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.

Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina.

Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja. Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.

Intensitas Cahaya

Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap.

Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina (Shorrocks, 1972).


Mutasi pada drosopila

Drosophila melanogaster merupakan organisme yang paling tepat pada pengamatan hereditas. Penelitian dengan menggunakan Drosophila melanogaster pertama kali digunakan oleh T.H. Morgan pada tahun 1910 dan berkembang sampai sekarang. Drosophila adalah organisme diploid dengan jumlah kromosom yang sedikit yaitu 2n=8 (Jones & Rickards 1991: 48).

Keuntungan menggunakan Drosophila melanogaster antara lain, mudah dipelihara, mempunyai siklus hidup pendek (hanya kira-kira dua minggu), mempunyai tanda-tanda kelamin sekunder yang mudah dibedakan. Lalat betina lebih besar daripada yang jantan. Ujung abdomen meruncing dan pada terdapat garis-garis hitam melintang. Lalat jantan lebih kecil, ujung abdomen tumpul berwarna kehitam-hitaman dan pada abdomen terdapat sedikit garis-garis hitam melintang. Ekstremitas (kaki) depan dari lalat jantan memiliki sisir kelamin (sex comb), tetapi lalat betina tidak memilikinya (Suryo 1994: 177-178). Sex comb yang terdiri dari sekitar sepuluh bulu-bulu berwarna gelap pada tarsal paling atas kaki depan merupakan ciri khas lalat jantan yang berfungsi sebagai alat pengenal jenis kelamin dua jam setelah menetas (Jones & Rickards 1991: 51).

Selain ciri-ciri tersebut di atas, drosophila melanogaster juga mudah untuk dikembangbiakkan dan mempunyai banyak mutan. Mutan adalah organisme yang mengalami perubahan fenotip akibat mutasi (Brown 1993: 193). Sedangkan mutasi adalah proses perubahan pasangan untai DNA atau perubahan kromosom yang dihasilkan (Russel 1994: 378). Istilah umum bagi setiap agen yang menyebabkan perubahan mutasi adalah mutagen, dan proses yang menyebakan mutasi adalah mutagnesis. 

Menurut tempat terjadinya, mutasi dapat dibedakan menjadi mutasi gen (kecil) dan mutasi kromosom (besar). Mutasi gen adalah perubahan yang terjadi pada susunan molekul DNA sedangkan mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada struktur dan susunan kromosom baik penambahan dan pengurangan kromosom. Berdasarkan faktor penyebab, mutasi dibagi menjadi mutasi spontan (alamiah) dan mutasi induksi (buatan). Mutasi spontan adalah peristiwa perubahan genetis yang terjadi karena perbuatan manusia (Yatim 1996: 263-265). Apabila dilihat dari daerah tubuh yang mengalami perubahan, mutasi dapat dibedakan menjadi mutasi somatik dan mutasi germinal (gametis). Mutasi somatik terjadi pada jaringan-jaringan tubuh seperti epitel, otot pengikat dan saraf sedangkan mutasi germinal terjadi pada sel-sel kelamin (gonad) (Griffiths 2000: 467).

Drosophila melanogaster memiliki ciri-ciri umum antara lain mata yang berwarna merah, tepi sayap yang teratur disertai dengan pola sayap yang seragam, bristle yang agak panjang dan halus, serta warna tubuh cokelat kekuning-kuningan (Stine 1993: 1). Bristle adalah modifikasi dari rambut Drosophila melanogaster yang pendek dan dilengkapi oleh sensor dan perangkap mangsa (Stoler 1979: 478). Selain itu, dikenal pula istilah halter pada Drosophila melanogaster. Halter merupakan sayap belakang yang menyusut menjadi struktur seperti kenop dan berfungsi sebagai alat keseimbangan (Borror 1998: 619).




Mutasi pada Drosophila melanogaster dapat terjadi pada warna mata, bentuk sayap dan warna tubuh.

1. Mutasi pada sayap

a. Mutan curly (cy). Mutasi terjadi akibat inversi. Sayap pada mutan curly melengkung ke atas dalam keadaan homozigot letal.

b. Mutan miniature (m). Mutasi yang terjadi akibat kerusakan pada kromosom pertama, lokus 36,1. panjang sayap hanya sepanjang tubuh.

c. Mutan vestigial (vg). Sayap dan halter tereduksi yang terjadi akibat 

kerusakan pada gen vestigial yang terletak pada kromosom kedua, 

lokus 67,0.

d. mutan dumpy (dp). Sayap 2/3 panjang tubuh akibat kerusakan pada kromosom kedua, lokus 13,1.

2. Mutasi pada warna mata

a. Mutan sepia (se). warna mata cokelat sampai hitam akiat kerusakan 

gen pada kromosom ketiga, lokus 26,0 (Russell 1994: 113).

b. Mutan cinnabar (cn). Warna mata merah, ocelli putih akibat 

kerusakan gen pada lokus kedua, lokus 57,5 (Russell 1994: 113).

c. Mutan white apricot (wa). Warna mata merah muda akibat kerusakan pada gen pink yang terletak pada kromosom ketiga (Klug & Cummings 1994: 162). 

d. Mutan Star (S). kerusakan gen yang terjadi pada kromosom kedua, lokus 1,3 menyebabkan mata kasar dan kecil dalam keadaan homozigot letal (Russell 1994: 113).

e. Mutan white (w). Mata berwarna putih yang terjadi akibat adanya kerusakan pada gen white yang terletak pada kromosom pertama, lokus 1,5 (Pai 1992: 51).

3. Mutasi pada warna tubuh.

a. Mutan yellow (y). Seluruh tubuhnya berwarna kuning akibat kerusakan pada gen yellow yang terletak pada kromosom pertama.

b. Mutan ebony (e). Seluruh tubuh berwarna cokelat karena kerusakan pada kromosom ketiga, lokus       64,0.

c. Mutan black (b). Seluruh tubuhnya berwarna hitam akibat terjadinya 

kerusakan pada gen black yang terletak pada kromosom kedua, lokus 48,0. 

Drosophila melanogaster normal (wild type) dinyatakan dengan simbol + atau dengan notasi huruf. Huruf kapital digunakan untuk sifat dominan dan huruf kecil untuk sifat resesif terhadap mutan-mutannya. Mutan-mutan diberi notasi sesuai dengan sifat mutasinya, yaitu dengan memberikan satu atau dua huruf pertama yang mendeskripsikan sifat mutasi tersebut. Sebagai contoh, vg untuk mutan vestigial dan w untuk mutan white (Jones & Rickrads 1991: 53-54). Lalat mutan yang memiliki perbedaan lebih dari satu dibandingkan dengan lalat normal, maka notasi harus dituliskan seluruhnya secara berurutan.

Contoh: w+w+dp+y+y+

              ww dp dp y+y+






BAB III
BAHAN & METODE



3.1 Bahan :



1. Drosophyla sp normal

2. Drosophila sp mutan dumpy

3. Medium pisang dan tape

4. Mold inhibitor (jika tersedia)

3.2 Alat : 

1. Mikroskop binokuler

2. Petri disk 

3. Botol ether dengan pipet

4. Etherizer

5. Botol kultur 

6. Reetherizer

7. Koas kecil

8. Masker

3.3 Metode : 

A. Menyediakan medium 

Medium pisangdan tape

Campurkan pisang yang ranum dan tape singkong dengan perbandingan 6:1 sehingga campuran yang homogeny. Isikan medium tersebut kedalam botol medium yang telah disterilkan ,kemudian masukan lipatan kertas saring atau kertas merang yang telah disterilkan pula dalam posisi berdiri untuk menghisap kelebihan air dan untuk melekat larva saat berpupa.

Bubuhkanlah beberapa tetes mold inhibitor diatas medium. Tutuplah botol kultur dengan sumbat kapas segera setelah diisi . medium ini dapat dimodifikasi dengan membubuhkan agar-agar supaya lebih kental , atau dapat dgunakan ragi sebagai ganti tape singkong .selain itu masih banyak resep-resep medium yang dipergunakan dilabolatorium lain. 

B. Menyediakan kultur

Dalam memilih parental yang akan di pergunakan dalam suatu penyilangan ,lalat-lalat tersebut dibius terlbih dahulu dengan ether , kemudian dalam keadaan masih pingsan kita pindahkan dalam botol kultur . untuk menghindarkan agar mereka tidak melekat pada medium yang basah ,maka kita letakan lalat-lalat itu dalam kerucut dari kertas yang ditempatkan diatas medium . bila pemindahan kebotol hanya bersifat memperbaharui medium maka pembiusan tidak perlu dilakukan . 

Untuk mengurangi kontaminasi biasanya kultur harus diganti dengan medium baru setelah satu bulan . penyimpanan kultur sebaiknya dilakukan pada tempat yang kena sinar matahari langsung dan pada temperatur kamar ( 25ºC)

Pembuangan sisa-sisa kultur atau kultur yang sudah tidak dipakai lagi dilakukan dengan membunuh seuruh isi botol kultur (dengan memanaskan dalam oven atau meredam detergen dalam beberapa waktu ).





Teknik memperlakukan lalat dalam eksperimen 

a. Membius lalat

Untuk pengamatan atau penghitungan biasanya lalat-lalat dibius dengan ether rendah .caranya adalah dengan membalikan etherizer diatas botol kultur yang dibuka sumbatnya dengan cepat setelah disentakan pada alas yang tidak terlalu keras (buku, bantal karet, dsb).



Cara melakukanya 

1. Sentuhkan botol kultur pada alas yang tidak terlalu keras beberapa kali,sehingga lalat jatuh hingga dasar botol.

2. Buka sumbat kapas botol kultur secepatnya lalu tempatkan etherizer pada mulut botol.

3. Balikan posisi botol kultur sedemikian hingga botol eatherizer terletak dibawah (ini dilakukan apabila medium tidak lunak )bila lunak (berair)biarkan pada posisi semula.

4. Peganglah kedua botol itu erat-erat dan ketuk ketuklah botol kultur sehingga lalat pindah ke etherizer .

5. Segera setelah lalat-lalat pindah kebotoletherizer,tutuplah botol tersebut dengan sumbatnya yang telah dibubuhi ether.

6. Bila lalat sudah tidak bergerak lagi , tunggu hingga 30 detiksebeum mengeluarkan isi botol ke ptri dish untuk pengamatan . pembiusan yang terlalu lama dapat membunuh mereka ,hal ini ditandai dengan sayap yang membentang tegak lurus pada tubuh. 

7. Biasanya lalat-lalat dalam keadaan terbius selama 5-10 menit. Bila mereka terbangun sebelum pengamatan selesai maka dapat dibius lagi memakai etherizer.

8. Untuk memindahkan lalat yang terbius kedalam botol kultur buatlah kerucut kertas kecil isikan lalat didalamya dan letakan di dalam medium. 

9. Lalat-lalat yang akan dibuang setelah dihitung atau diamati , masukan ke dalam botol yang berisi minyak atau air dengan detergen.

10. Dalam pengamatan dan perhitungan ,pemindahan lalat-lalat harus dipergunakan koas kecil untuk menyapu nyapu

b. Membuat sub kultur 

Dalam suatu pengamatan kadang-kadang dibutuhkan jumlah keturunan yang banyak atau memindahkan suatu kultur dalam medium yang baru . dalam hal ini pembiusan tidak perlu dilakukan tetapi dapat memindahkan kultur yang lain langsung kedalam botol kultur . caranya sama dengan pembiusan hanya botol-botoldiubah sebagai : 

Botol kultur baru dibawah , sedang botol kutur lama diatasnya.



c. Pengamatan lalat

Stadar untuk membandingkan persamaan persamaan atau perbedaan karakter dari mutan mutan aialah stoke lalat normalyang dikoleksi dari alam dan selama banyak generasi menunjukan phenotipe normal yang tak berubah . pengamatan dilakukan dengan melihat perkembangan drosophyla setiap saat kemudian catat tanggal pemasukan lalat pada botol kultur serta amati setiap perubahan dan catat setiap perubahan yang terjadi setiap waktu.

Setelah lalat buah mengalami perubahan dari pupa ke fasa imago segeralah lakukan pemisahan pada lalat buah yang akan kita amati dan kita kawnikan dengan mutan dumpy . setelah lalat menjadi imago kita hitung keseluruhan lalat buah tersebut kemudian setelah dihitung pisahkan drosophila betina virgin yang belum delapan jam dengan drosophila yang jantan agar tidak terjadi perkawinan . simpan betina virgin atau jantan virgin yang akan kita kawinkan dengan drosophila mutan . lalu amati lagi perkembangan drosophila normal dengan drosophila mutan yang dikawinkan kemudian catat perkembangan yang terjadi.






BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

Tabel F1 drosophila dengan jumlah lalat buah 20 ekor yang menetas menjadi imago.
Tabel perkembangan drosophila normal .
JAM
hari ke
hari dan tanggal
STADIUM
12.00
0
selasa , 25-06-13
lalat dimasukan dalam medium
14.00
2
kamis,27-06-13
lalat bertelur
06.46
4
sabtu,29-06-13
telur menjadi larva
05.07
6
minggu,30-06-13
larva menjadi pupa
17.47
7
senin,01-07-13
imago

Tabel drosophila betina normal x drosophila dumpy jantan
F1 (Drosophila normal) x (drosophila mutan )

Jam
Hari ke-
Hari dan tanggal
Stadium
14:20
0
senin,1-07-13
Lalat dimasukan dalam medium
20:15
1
selasa,02-07-13
Larva
11:18
2
rabu,03-04-13
pupa
07:30
3
kamis,04-07-13
imago
07:45
4
Jumat,05-07-13
Drosopila dewasa



Pembahasan 

Dari tabel diatas dapat kita bahas bahwa drosphila melanogatser pada persilangan antara drosophila normal dan drosopila normal berselang selama 7 hari . dimana pada hari ke-0 drosopila dimasukan kedalam medium , kemudian pada hari ke-2 hari kamis tanggal 27 juni 2013 drosophila mulai bertelur . kemudian pada hari ke-4 hari sabtu drosophila mulai menuju tahap berikutnya yaitu tahap menjadi larva , kemudian pada hari ke-6 drosopila mulai menjadi pupa lalu pada hari ke-7 drosopila mulai menjadi imago yang kemudian kita isolasi kita hitung jumlah keseluruhan lalat yang menetas dari pupa menuju ke imago pada periode penetasan yang pertama berjumlah sepuluh ekor , dengan jantan 5 dan betina 5. Kemudian kami pisahkan yang betina dan jantan agar tidak terjadi perkawinan . betina virgin kita masukan pada edium baru sedangkan yang jantanya setelah dihitung bisa kita matikan atau terbangkan ke udara bebas . selanjutnya setelah drosophila virgin kita dapatkan kita akan silangkan dengan drosophila jantan mutan dumpy (dp) . drosophila normal (betina ) yang sudah dimasukan pada medium baru kemudian kita silangkan dengan drosophila mutan (jantan) dengan jumlah yang sama jantan : betina ,5 : 5. 

Pada persilangan drosophila normal dan mutan berlangsung secara cepat hanya dengan hitungan empat hari saja drosopila sudah menjadi individu baru . 

Dapat dilihat pada tabel pengamatan bahwa drosophila pada hari ke-0 sampa hari ke-4 

Hari ke-0 drosophila dimasukan pada medium baru (kemungkinan pada beberapa jam kemudian drosophila mulai bertelur )

Hari ke-1 drosophila mulai berubah menjadi larva 

Hari ke-2 drosophila mulai berubah menjadi pupa 

Hari ke-3 drosophila mulai berubah menjadi imago 

Hari ke-4 drosophila mulai menjadi drosophila dewasa.



Pada tabel pengamatan yang ke-2 pada persilangan antara drosophila normal betina dengan drosophila mutan dumpy jantan . menghasilkan drosophila muda lebih dari jumlah parental yang dimasukan kedalam medium baru . 

Parental Drosophila jantan normal X betina normal

genotip (++) X (++)

fenotip (mata merah, sayap lebih pajang dari tubuh )

F1 ++

Setelah diperoleh f1 imago dipisahkan jantan dan betinanya sebelum 8 jam. Lalu drosophila betina kita pindahkan ke medium baru untuk disilangkan dengan drosophila mutan (dumpy)

Parental drosophila jantan dumpy X Drosophila normal betina

Genotipe (dpdp) X (++) 

Fenotip (Sayap 2/3 panjang tubuh) X ( sayap lebih panjang dari tubuh )

F1 dpdp X ++

+dp

F2 +dp X +dp
Jantan/betina
+
dp
+
++
+dp
dp
+dp
dpdp



genotope,

++,+dp,+dp, dpdp (1:2:1)

Fenotipe ,

1 drosphila normal

2 drosophila carrier

3 drosophila mutan dumpy
















BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari data yang kita peroleh serta dasar teori dapat kita simpulkan bahwa drosophila melanogaster memiliki siklus hidup yang bervariasi tergantung dari situasi serta beberapa faktor tertentu yang disebutkan pada dasar teori , faktor itu berupa ntensitas cahaya , makanan ,suhu . pada drosopila yang disilangkan antara drosophila normal dengan normal siklus hidupnya selama 7 hari mulai dari hari ke-0 sampai hari ke-7. Pada persilangan antara drosophila normal betina dengan drosophila mutan dumpy siklus hidupnya dari hari ke-0 sampai hari ke-4 , hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan pergiliran fase menjadi lebih cepat seperti suhu, intensitas cahaya dan makanan .
Drosophila Dumpy (dp) merupakan mutan dengan bentuk sayap yang terbelah sehingga panjang sayap tampak hanya dua per tiga dari panjang sayap normal.
Pada pengamatan Drosophila melanogaster normal dan mutan-mutannya
terlihat secara morfologi, Drosophila melanogaster normal mudah dibedakan dengan mutan-mutannya.  Ciri-ciri normalnya, yaitu warna mata merah, panjang sayap lebih panjang dari panjang tubuh dan warna tubuh yang kecokelatan.


DAFTAR PUSTAKA
Addan.2010.Drosophila melanogaster.http://addanupdate.blogspot.com/2010/06/Drosophila-melanogaster.html. Diakses tanggal 6 juni 2013
Anonim. 2009. Identifikasi tangkapan dari daerah.http://afreedabio.blogspot.com/2009/08/identifikasi-tangkapan-dari-daerah.html.
Maryuningsih,Yuyun.2011.Panduan Praktikum GENETIKA.Cirebon:IAIN Press
Yatim,Wildan. 2003.Genetika.Bandung:Tarsito
Zaraen.2008.Siklus hidup Drosophila.http://zarzen.wordpress.com/2008/09/27/siklus-hidup-drosophila/. Diakses tanggal 6 januari 2013
Shorrocks, B. 1972. Drosophila. London: Ginn & Company Limited.
Borror.J.D,Triplehorn. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.



No comments:

Post a Comment