Search This Blog

Tuesday, January 24, 2017

mengenal serangga dan taksonomi serangga




TAKSONOMI SERANGGA



Istilah taksonomi berasal dari yunani yaitu taxis yang berarti susunan dan nomos yang berarti hukum. Jadi secara umum taksonomi berarti penyusunan yang teratur dan bernorma mengenai organisme-organisme dan kelompok-kelompok yang tepat dengan menggunakan nama-nama yang sesuai dan benar. Kegiatan identifikasi, deskripsi pengumpulan data tentang contoh serangga yang diselidiki, serta pencarian pustaka mengenai serangga tersebut seperti adaptasi, distribusi, dan macam tanaman inangnya termasuk kegiatan sehari-hari yang dilakukan seorang taksonom. Taksonomi didasarkan pada persamaan cirinya. Serangga dengan ciri yang sama dimasukan ke dalam kelompok yang sama jadi disini melakukan kegiatan klasifikasi. Kategori klasifikasi pada binatang pada dasarnya adalah. 


Golongan

Phylum

Kelas

Ordo (bangsa)

Famili (suku, marga)

Genus (keluarga)

Spesies (jenis)

Golongan binatang secara berurutan akan terdiri atas bebeeapa phylia  satu phylia terdiri atas beberapa kelas. Demikian seterusnyayang kemudian jumlahnya akan terus meningkat dalam setiap kelompok. Kelompok spesies atau jenis terdiri atas sekitas satu juta nama. Semua serangga adalah anggota dari phyllum arthropoda yaitu binatang dengan kaki yang beruas-ruas. Serangga yang biasa dikenal sebagai lebah madu dapat di klafisikasikan sebagai berikut:



Golongan : Animalia

Phyllum : Arthropoda

Kelas : Insekta

Ordo : Hymenoptera

Famili : Apidae

Genus : Apis

Spesies : Apis mellifera

Nama yang dipakai suatu spesies binatang adalah nama umum, daerah setempat dan nama ilmiah. Contoh diatas nama umum serangganya adalah lebah madu (honey bee). Nama ilmiah suatu spesies terdiri atas genus, spesies dan nama penemu (author)yang telah menemukan suatu spesies dalam susunan taksonominya.

Klasifikasi
Dunia binatang terbagi menjadi 14 phyla. Dasar yang dipakai adalah tingkat kekomplekan dan mungkin dari urutan evolusinya sehingga phyla binatang disusun dari phylum yang rendah ke phylum yang tinggi.
Serangga dikelompokan menjadi phyllum Arthropoda. Arthropoda terbagi menjadi 3 sub phyllum yaitu Trilobita, Mandibulata, Chelicerata.





Sumber : Buku Kunci Determinasi Serangga KANISIUS 1991 

Tuesday, January 17, 2017

hutan mangrove


          hutan mangrove

          Flora ekosistem hutan mangrove sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah flora yang                 bersifat halofit. Jenis-jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove antara lain adalah :
  1. Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
  2. Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
  3. Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
  4. Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
  5. Lythraceae (sonneratia, dll)

    Sementara fauna ekosistem hutan mangrove juga sangat beragam, mulai dari hewan-hewan vertebrata seperti berbagai jenis ikan, burung, dan hewan amphibia, dan ular sampai berbagai jenis hewan invertebrata seperti insects, crustacea (udang-udangan), moluska (siput, keong, dll), dan hewan invertebrata lainnya seperti cacing, anemon dan koral. Ekosistem hutan mangrove adalah salah satu ekosistem hutan yang sangat kaya akan flora dan faunanya.

         

paku ekor kuda (scuring rushes)

paku ekor kuda (scuring rushes)

Nama paku ekor kuda merujuk pada segolongan kecil tumbuhan (sekitar 20 spesies) yang umumnya terna kecil dan semua masuk dalam genus Equisetum (dari equus yang berarti "kuda" dan setum yang berarti "rambut tebal" dalam bahasa Latin). Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Di kawasan Asia Tenggara (Indonesia termasuk di dalamnya) hanya dijumpai satu spesies alami saja, E. ramosissimum subsp. debile, yang dikenal sebagai rumput betung dalam bahasa Melayu. Kalangan taksonomi masih memperdebatkan apakah kelompok ekor kuda merupakan divisio tersendiri, sebagai Equisetophyta (atau Sphenophyta), atau suatu kelas dari Pteridophyta, sebagai Equisetopsida (atau Sphenopsida). Semua anggota paku ekor kuda bersifat tahunan, terna berukuran kecil (tinggi 0.2-1.5 m), meskipun beberapa anggotanya (hidup di Amerika Tropik) ada yang bisa tumbuh mencapai 6-8 m (E. giganteum dan E. myriochaetum).

Batang tumbuhan ini berwarna hijau, beruas-ruas, berlubang di tengahnya, berperan sebagai organ fotosintetik menggantikan daun. Batangnya dapat bercabang. Cabang duduk mengitari batang utama. Batang ini banyak mengandung silika. Ada kelompok yang batangnya bercabang-cabang dalam posisi berkarang dan ada yang bercabang tunggal. Daun pada semua anggota tumbuhan ini tidak berkembang baik, hanya menyerupai sisik yang duduk berkarang menutupi ruas. Spora tersimpan pada struktur berbentuk gada yang disebut strobilus (jamak strobili) yang terletak pada ujung batang (apical). Pada banyak spesies (misalnya E. arvense), batang penyangga strobilus tidak bercabang dan tidak berfotosintesis (tidak berwarna hijau). Jenis-jenis lain tidak memiliki perbedaan ini (batang steril mirip dengan batang pendukung strobilus), misalnya E. palustre dan E. Debile (Paku Ekor Kuda).

Ciri-ciri Paku Ekor Kuda
Kelas Sphenopsida atau Equisetinae disebut juga paku ekor kuda (scuring rushes), dengan ciri-ciri sebagai berikut :
- sering tumbuh di tempat berpasir, menghasilkan heterospora
- batangnya banyak mengandung silica
-mempunyai batang di atas tanah (tegakan / shoot) dan batang di bawah tanah (rimpang /rhizome)
contoh :
Famili : Equisetaceae
Genus : Equisetum arvense, E. palustre.

Manfaat Paku Ekor Kuda
Equisetum debile  tumbuh di tepat-tempat basah diantara rumput-rumputan. Tumbuhnya di tempat-tempat yang agak tinggi diatas permukaan laut. Batangnya yang ada di bawah permukaan tanah merupakan akar tinggal (rhizoma). Yang tumbuh menjulang di atas permukaan tanah bentuknya gilig mempunyai rongga-rongga didalamnya. Batang ini dapat dijadikan bahan obat-obatan. Daunnya kecil-kecil, tumbuhnya melingkari buku-bukunya. Daun-daunnya yang subur berkumpul diujung batang dan dapat menghasilkan sporangia. Batang Paku Ekor Kuda mengandung zat kersik sehingga abunya dapat dijadikan bahan penggosok. 

POWERPOINT fotosintesis


FOTOSINTESIS