Search This Blog

Showing posts with label CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM. Show all posts
Showing posts with label CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM. Show all posts

Thursday, March 12, 2020

Membuat sediaan segar mitos dan meiosis tumbuhan


Percobaan ini bertujuan untuk melihat sediaan segar mitosis tumbuhan.

Dasar teori:

Untuk melihat mitosis tumbuhan dapat menggunakan ujung akar. Cara memperlakukan/menggunakan ujung akar tergantung sepenuhnya pada tujuan yang diinginkan. Ujung akar harus sesuai dengan metode yang paling cocok untuk tanaman yang bersangkutan. Jumlah ujung akar yang baik harus tersedia dalam waktu satu Minggu. Pengambilan pada Allium cepa  yang baik sekitar jam 7 pagi atau jam 3 sore. Akar harus dicuci secara menyeluruh dibawah air mengalir sebelum dipotong menjadi bagian-bagian yang panjangnya 1 cm dan ditaruh dalam larutan fiksasi. Letakkan pasir potongan akar. Gunakan pisau yang tajam untuk memotong akar dalam beberapa bagian. Formalin-aceto-alcohol dan formalin-propiono-alcohol akan memperbaiki hampir semua akar dengan sempurna. 

Alat dan bahan yang dibutuhkan:

Alat: botol film, gelas arloji, cawan Perri, gelas objek, gelas penutup, pinset, pensil berkaret, water bath, lampu spiritus, dan mikroskop. 

Bahan: ujung akar bawang merah dan bawang bombai, kapas, larutan 0,002 M 8-hydroxyquinolin, larutan asam asetat 45%, Hcl 1N dan acetobacter orcein.

Metode kerja:

1. Persiapan material: umbi bawang merah ditumbuhkan di kapas lembab dan bawang bombai ditumbuhkan di dalam wadah botol yang berisi air sampai bawang mengeluarkan akar.

2. Pra perlakuan: ujung akar terpilih ( ujung utuh dan berwarna putih susu) dipotong sepanjang 1-2 cm. Dicuci bersih dan dimasukan kedalam botol/tabung film yang berisi larutan 0,002M 8-hydroxyquinolin, lalu disimpan pada suhu 20 derajat Celcius di lemari es selama 3-5 jam.

3. Pencucian: akar dicuci dalam air mengalir beberapa kali.

4. Fiksasi: akar yg sudah dicuci bersih diredam dalam larutan asam asetat 45% selama 10 menit.

5. Maserasi: akar dimasukan kedalam larutan maserasi berupa campuran hcl 1 N dan asam asetat 45%  dengan perbandingan 3:1 kemudian diletakan di penangas (water bath) pada suhu 60 derajat Celcius selama 1 menit.

6. Pewarnaan : akar diletakan pada gelas arloji, dengan posisi konsentris yaitu bagian ujung akar diletakan di pusat Selasa arloji, kemudian ditetesi aceto orcein dan dibiarkan selama 30 menit sambil ditutup dengan cawan petri agar pewarna tidak menguap. 

7. Pemencetan (Squash) : ujung akar dipotong 1-2 mm, diletakan pada gelas objek lalu ditetesi 1-2 aceto orcein baru. Kemudian specimen diberi gelas penutup dan dilewatkan diatasi lampu spiritus sambil dirasakan hangat kuku dikulit tangan. Gelas objek diletakan di atas kertas tissue, lalu dipukul-pukul halus dengan pensil berkaret hingga sel-sel pecah dan menyebar merata. Terakhir bahan diletakan halus dengan ibu jari lalu dihangatkan lagi. 

8. Pengamatan specimen diamati di mikroskop pertama-tama dengan pembesaran objektif lemah 10x guna melihat seluruh sel. Setelah diperoleh sel-sel terpilih diamati dengan pembesaran kuat (40X). Preparation yang bagus akan dijadikan preparation permanen.

Membuat sediaan segar meiosis tumbuhan


Alat: botol film, gelas arloji, cawan Perri, gelas objek, gelas penutup, pinset, pensil berkaret, water bath, lampu spiritus, dan mikroskop. 

Bahan: kepala sari bunga lili (Lium sp) dan bunga Rhoeo discolor, etanol absolute, kloroform, aceto orcein, asam asetat glasial, dan HCL 1 N 


  

Sumber: buku praktikum biologi unpak

Tuesday, August 27, 2019

CONTOH Makalah Asosiasi antara dua jenis



PENDAHULUAN 
 
 
1.1 latar belakang 
Pada dasarnya pada praktikum ekologi ini bertujuan untuk menentukan adanya asosiasi dua jenis tumbuhan. Seperti yang kita ketahui keberadaan dua jenis tumbuhan bersama-sama (coexistence) secara berulang – ulang di banyak tempat dalam satu komunitas tumbuhan diduga adanya assosiasi diantara kedua jenis tumbuhan tersebut. Asosiasi ini dapat berupa kompetensi mutualisme, komensalisme dan lain lain. Untuk mengetahhui apakah benar ada sebuah asosiasi antara dua jenis tumbuhan  maka dilakukanlah praktikum ekologi untuk mengetahui adanya asosiasi antara dua jenis tumbuhan.
 
1.2 tujuan
Untuk menentukan adanya asosiasi antara dua jenis tumbuhan.
 
1.3 dasar teori
Keberadaan dua jenis tumbuhan yang sama (coexistence) secara berulang – ulang di banyak tempat dalam satu komunitas tumbuhan diduga adanya assosiasi diantara kedua jenis tumbuhan tersebut. Asosiasi ini dapat berupa kompetensi mutualisme, komensalisme dan lain lain. untuk mengetahui adanya asosiasi antara dua jenis tumbuhan atau tidak digunakan metode countigency 2x2.
 
Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah
Meteran, ajir, tali plastik, buku, pulpen dan penggaris.

Metode kerja
Dibuatlah sejumlah petak contoh pada areal vegetasi yang akan diamati. Dicatat setiap jenis – jenis tumbuhan yang akan diamai pada setiap petak contoh.




Data pengamatan
Jenis tumbuhan
Plot
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B
15
-
8
-
12
-
-
-
-
-
C
2
1
-
3
-
-
-
-
-
-
D
1
-
3
-
-
-
2
-
-
-
E
-
4
-
-
-
-
-
-
4
3
F
-
3
-
-
-
-
-
8
1
5

Keterangan:
Jenis A : Urena lobata
Jenis B: Coplimenus
Jenis C: Leptapis
Jenis D: Piper Adutum
Jenis E: Harendong
Jenis F: Selaginela
Tabel interaksi
Jenis
Interaksi/asosiasi
Nilai x2
A-B
+
0.21
C-D
+
0.77
E-F
+
3.35
D-E
+
0.36
A-F
+
0.04

Pembahasan
Dari data pengamatan jenis tumbuhan mulai dari spesies A sampai dengan F yang kami amati dari 10 plot terdapat asosiasi diantara dua jenis tubuhan. Hal terseebut terlihat dari nilai hasil Xyang kami hitung. Hasil hitungan tersebut menunjukan terdapatnya asosiasi antara dua jenis tumbuhan tersebut. Pada jenis tumbuhan A-B  memiliki Xhitung 0,21 yang menunjukan tumbuhan A-B terdapat interaksi positif atau terdapat asosiasi.
Perhitungan A-B sebagai berikut :
X =  n ( (ad-bc) – (n/2) )/ (a+c) x (b+d) x (a+b) x (c+d)
      = 10 ( ( 1x7 – 0 ) – (10/2) )/ 1x9x3x7
      = 10 (7-5)/ 189
      =  40/189
         =  0,21
Xhitung < dari Xtabel 3,84 sehingga pada jenis tumbuhan A-B terdapat asosiasi dengan nilai Xhitung 0,21.
Pada jenis tumbuhan C-D memiliki X2  hitung 0,77 yang menunjukan bahwa pada tumbuhan A dan D terdapat interaksi sama seperti pada tanaman A-B.
X =  n ( (ad-bc) – (n/2) )/ (a+c) x (b+d) x (a+b) x (c+d)
      = 250/324 = 0,77

Kesimpulan
Dari ata pengamatan dan pembahasan dapat kita simpulkan bahwa pada jenis tumbuhan jenis A-F terdapat asosiasi. Hal tersebut diperkuat dengan terbuktinya nilai X2 hitung yang didapat dari hitungan antara dua jenis tumbuhan. Nilai X2 hitung yang lebih kecil dari X2 tabel menunjukan bahwa interaksi A-B, E-F, D-E A-F.  Terdapat asosiasi dengan nilai Xhitung < dari Xtabel 3,84.

Daftar pustaka
Odum, E. 1993. Dasar Dasar Ekologi. Gadjah Mada University. Yogyakarta

Buku Penuntun Praktikum Ekologi Universitas Pakuan Bogor.

Wednesday, August 21, 2019

LAPORAN FISIKA DASAR pengukuran dasar pada benda padat

 
 
Pengukuran Dasar Pada Benda Padat


Bab I
Pendahuluan
1.1  Tujuan percobaan
1.      mempelajari dan menggunakan alat alat ukur
2.      menentukan volume dan massa jenis zat padat
3.      menggunakan teori ketidakpastian
1.2  Dasar teori
dalam pengukuran benda padat dapat dilakukan dengan menghitung panjang, lebar, tinggi benda yang akan kita ukur. Apa itu luas benda, volume benda, atau pun keliling benda.kita dapat mengghitung benda pada dengan cara mengukur benda mula dari panjang, lebar ,tinggi .adapun benda yang rumit seperti kunci yang tidak kita ketahui panjang lebat tingginya dikarnakan bentuk dan permukaanya yang sulit kita ukur , kita bisa mengukur  volume benda dengan menggunakan hukum archimedes.yang dimana prinsip kerja pada hukum archimedes ini  menggunakan prinsip” jika benda yang tercelup sebaian ataupun semuanya maka benda itu akan mendapat tekanan keatas sama besarnya seperti tekanan benda yang tercelup itu”.



unduh laporan dibawah sini

DOWNLOAD


Sunday, March 11, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM PESAWAT ATWOOD


CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR


 LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA PESAWAT ATWOOD


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1)      Mempelajari penggunaan Hukum-hukum Newton
2)      Mempelajari gerak beraturan dan berubah beraturan
3)      Menentukan momen inersia roda/katrol

 1.2 Dasar Teori

Hukum Newton ini menunjukan sifat benda yaitu sifat inersia namun tidak terdefinisi secara kuantitatif. Berdasarkan eksperimen serta dorongan intuitif darihokum newton pertama, Newton telah merumuskan Hukum II Newton yang terdefinisikan massa secara kuantitatif, serta memperlihatkan hubungan gaya dengan gerak benda secara kuantitatif pula. Salah satu kesimpulan Hukum II Newton ini adalah jika gayanya tetap, maka benda akan mengalami percepatan yang tetap pula. Dua massa yang digantungkan pada katrol dengan kabel, kadang-kadang disebut secara umum sebagai mesin Atwood. Pada dasarnya, pesawat Atwood ini tidak lepas dari prinsip. Prinsip hukum Newton. Dimana hukum I Newton berbunyi “Bahwa setiap benda tetap beradadalam keadaan diam atau bergerak dengan laju tetap sepanjang garis lurus kecuali jika diberi gaya total yang tidak nol”
 Hukum II Newton berbunyi “Setiap benda yang dikenai gaya maka akan mengalami percepatanyang besarnya berbanding lurus dengan besarnya gaya dan berbanding tebalik dengan besarnya massa benda.”

Keterangan :
a  = percepatan benda (ms-2)
N = massa benda (kg)
F  = Gaya (N)

 Hukum III Newton berbunyi Setiap gaya yang diadakan pada suatu benda, menimbulkan gaya lain yang sama besarnya dengan gaya tadi, namun berlawanan arah. Gaya reaksi ini dilakukan benda pertama pada benda yang menyebabkan gaya. Hukum ini dikenal dengan
Hukum Aksi Reaksi.
Faksi = -Freaksi
         Untuk percepatan yang konstan maka berlaku persamaan Gerak yang disebut Gerak Lurus Berubah Beraturan. Bila sebuah benda berputar melalui porosnya, maka gerak melingkar ini berlaku persamaan-persamaan gerak yang ekivalen dengan persamaan- persamaan gerak linier. Dalam hal ini besaran fisis momen inersia (I) yang ekivalen dengan besaran fisis massa (m) pada gerak linier. Momen inersia suatu benda terhadap poros tertentu harganya sebanding dengan massa benda tersebut dan sebanding dengan kuadrat dan ukuran atau jarak benda pangkat dua terhadap poros.


I~ m
I~ r2
Untuk katrol dengan beban maka berlaku persamaan :

                  a = (m+m1) ± m2      .g
                          m + m1 + m2 + I/ r2
dengan :
a = percepatan gerak
m = massa beban
I = momen inersia katrol
r = jari-jari katrol
g = percepatan gravitasi
         




BAB II
ALAT DAN BAHAN

2.1 Alat

1)      Pesawat atwood lengkap
a)      Tiang berskala
b)      Dua beban dengan tali
c)      Beban tambahan (dua buah)
d)     Katrol
e)      Penjepit beban
f)       Penyangkut beban
2)      Stopwatch







BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1  Gerak Lurus Beraturan
a)      Ditimbang beban m1, m2, dan m3 (diusahakan m1=m2).
b)      Diletakkan beban m1 pada penjepit P.
c)      Beban m2 dan m3 terletak pada kedudukan A.
d)     Dicatat kedudukan penyangkut beban B dan meja C (secara tabel)
e)      Bila penjepit P dilepas, m2 dan m3 akan dipercepat antara AB dan selanjutnya bergerak beraturan antara BC setelah tambahan beban tersangkut di B. Catat waktu yang diperlukan untuk gerak antara BC.
f)       Diulangi percobaan di atas dengan mengubah kedudukan meja C (ingat tinggi beban m2).
g)      Diulangi percobaan di atas dengan menggunakan beban m3 yang lain.

Catatan :
Selama serangkaian pengamatan berlangsung jangan mengubah jarak antara A dan B.

3.2  Gerak Lurus Berubah Beraturan
a)      Diatur kembali seperti percobaan gerak lurus beraturan.
b)      Dicatat kedudukan A dan B (secara tabel).
c)      Bila beban m1 dilepas maka m2 dan m3 akan melakukan gerak lurus berubah beraturan antara A dan B, dicatat waktu yang diperlukan untuk gerak ini.
d)     Diulangi percobaan di atas dengan mengubah-ubah kedudukan B. Catat selalu jarak AB dan waktu yang diperlukan.
e)      Diulangi percobaan di atas dengan mengubah beban m3.



 







BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Berdasarkan pengamatan dan percobaan yang telah dilakukan pada hari Rabu, 7 November 2012, maka didapatkan dilaporkan hasilnya sebagai berikut:
Keadaan Ruangan
P(cm)Hg
T(°C)
C(%)
Sebelum Percobaan
75,55
24
69
Sesudah Percobaan
75,5
24
75

GLB

M(g)
S(cm)
T(s)
V(cm/s)
2
20
1,5
13,33
25
1,3
19,231
4
20
1,2
16,667
25
1,4
17,857
6
20
0,7
28,571
25
1,1
22,727

GLBB

M(g)
S(cm)
T(s)
α(cm/s2)
V(cm/s)
I(cm)
2
20
1,84
11,81
21,73
2622,920
25
2,25
9,87
22,20
1274,249
4
20
1,67
14,34
23,94
18.693,43
25
1,84
14,76
27,15
7987,7
6
20
1,66
14,51
24,08
2298,5
25
1,89
13,99
26,44
1674,27






BAB V
PEMBAHASAN

 
GERAK LURUS BERATURAN (GLB)

     Lempeng 2 gram
   Diketahui :
   (s) 20 cm
         t  = 1,5 s
        v = s/t = 20/1,5 = 13,33 cm/s
   Diketahui :
   (s) 25 cm
    t  = 1,3
    v = s/t = 25/1,3 = 19,231cm/s

Lempeng 4 gram
  Diketahui :
   (s) 20 cm
    t = 1,2
    v = s/t = 20/1,2 = 16,667 cm/s
 Diketahui :
   (s) 25 cm
    t = 1,4
    v = s/t = 25/=1,4 = 17,857cm/s

Lempeng  6 gram
   Diketahui :
 (s) 20 cm
           t  = 0,7
           v = s/t = 20/0,7 = 28,571 cm/s
    Diketahui :
   (s) 25 cm
              t = 1,1
              v = s/t = 25/1,1= 22,727 cm/s




GERAK  LURUS BERUBAH BERATURAN (GLBB)

Lempeng 2 gram
· Diketahui :
   (s) 20 cm
       t = 1,84 s
           a = 2.s / t2
   = 2.20/1,842
 = 11,81 cm/s2
v = a x t =11,81 x 1,84 = 21,73 cm/s
I  =  {m.g/a - (2 M + m)}x R2
   =  {2. 980/11,81- ( 227,4 + 2)} x 6,4296192
   =  {1960/11,81- ( 229,4)} x 41,34
   =  2622,920
· Diketahui :
  (s) 25 cm
    t = 2,25
    a = 2.s / t2
       = 2.25/ 2,252
       = 9,87 cm/s2
    v = a x t = 9,87 x 2,25 = 22,20 cm/s
     I   =  {m.g/a - (2 M + m)}x R2
         =  {2. 980/11,81- ( 227,4 + 2)} x 6,4296192
         =  {1960/9,87- ( 229,4)} x 41,34
                   =  1274,249

Lempeng 4 gram
· Diketahui :
(s) 20 cm
    t = 1,67
    a = 2.s / t2
       = 2.20/ 1,672
       = 14,34 cm/s2
    v = a x t = 14,34 x 1,67 = 23,94 cm/s
      I  =  {m.g/a - (2 M + m)}x R2
         =  {4. 980/14,34 - ( 227,4 + 4)} x 6,4296192
         =  {3920/14,34 -( 231,4)} x 41,34
                   =  18.693,43

· Diketahui :
  (s) 25 cm
    t = 1,84
    a = 2.s / t2
       = 2.25/ 1,84
       = 14,76 cm/s2
    v = a x t = 14,76 x 1,84 = 27,15 cm/s
      I  =  {m.g/a - (2 M + m)}x R2
         =  {4. 980/14,76 - ( 227,4 + 4)} x 6,4296192
         =  {3920/14,34 -( 231,4)} x 41,34
                   =  7987,7
Lempeng 6 gram
· Diketahui :
   (s) 20 cm
    t = 1,66
    a = 2.s / t2
       = 2.20/ 1,662
       = 14,51 cm/s2
    v = a x t = 14,51 x 1,66 = 24,08 cm/s
      I  =  {m.g/a - (2 M + m)}x R2
         =  {6. 980/14,76 - ( 227,4 + 6)} x 6,4296192
         =  {5880/14,34 -( 233,4)} x 41,34
                   =  2298,5





· Diketahui :
   (s) 25 cm
    t = 1,89
    a = 2.s / t2
       = 2.25/ 1,892
       = 13,99 cm/s2
    v = a x t = 13,99 x 1,89 = 26,44 cm/s
      I  =  {m.g/a - (2 M + m)}x R2
         =  {6. 980/13,99- ( 227,4 + 6)} x 6,4296192
         =  {5880/13,99-( 233,4)} x 41,34
                   =  1674,27









                                                                       BAB VI
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.  Pesawat Atwood merupakan alat yang dapat dijadikan sebagai aplikasi atau sebagai alat yang dapat membantu dalam membuktikan Hukum-hukum Newton ataupun gejala-gejala lainnya.
2.  Setiap benda mempunyai perbedaan dalam menempuh jalur dari pesawat Atwood ini yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu.
3.    Massa bandul dan massa beban tambahan mempengaruhi waktu dan kecepatan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) serta momen inersia yang dihasilkan.
4.    Gaya gravitasi mempengaruhi waktu dan kecepatan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) serta momen inersia yang dihasilkan.

 





DAFTAR PUSTAKA

Alonso, Marcello & Edward J. Finn. 1980. Dasar-Dasar Fisika Universitas.   Erlangga. Jakarta
Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar . Universitas Pakuan. Bogor
Hilliday, David & Robert Resnick. 1985. Fisika. Erlangga. Jakarta      
Tiper, Paul A. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga. Jakarta