Search This Blog

Showing posts with label biologi. Show all posts
Showing posts with label biologi. Show all posts

Tuesday, August 27, 2019

PLASMA DARAH


Fungsi, Pengertian dan Komponen Plasma Darah (Cairan Darah)
 
Pengertian Plasma Darah (Cairan Darah)
Saat darah didiamkan akan terbentuk dua lapisan, plasma darah dan sel sel darah. Di artikel sebelumnya telah dibahas mengenai lapisan bawah yang terdiri atas sel-sel darah. Kini akan dibahas mengenai lapisan atas yang berupa plasma darah ( cairan darah ). Plasma darah ini mengandung berbagai macam zat organik, anorganik, dan air.


Komponen Penyusun Plasma Darah
Senyawa atau zat-zat kimia yang larut dalam cairan darah antara lain sebagai berikut.
1) Sari makanan dan mineral yang terlarut dalam darah, misalnya monosakarida, asam lemak, gliserin, kolesterol, asam amino, dan garam-garam mineral.
2) Enzim, hormon, dan antibodi, sebagai zat-zat hasil produksi sel-sel.
3) Protein yang terlarut dalam darah, molekul-molekul ini berukuran cukup besar sehingga tidak dapat menembus dinding kapiler. Contoh:
a) Albumin, berguna untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik darah.
b) Globulin, berperan dalam pembentukan g-globulin, merupakan komponen pembentuk zat antibodi.
c) Fibrinogen, berperan penting dalam pembekuan darah.
4) Urea dan asam urat, sebagai zat-zat sisa dari hasil metabolisme.
5) O2, CO2, dan N2 sebagai gas-gas utama yang terlarut dalam plasma.

Fungsi Plasma Darah

Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting adalah serum. Serum merupakan plasma darah yang dikeluarkan atau dipisahkan fibrinogennya dengan cara memutar darah dalam sentrifuge. Serum tampak sangat jernih dan mengandung zat antibodi. Antibodi ini berfungsi untuk membinasakan protein asing yang masuk ke dalam tubuh. Protein asing yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen.

Berdasarkan cara kerjanya, antibodi dalam plasma darah dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Aglutinin : menggumpalkan antigen.
2) Presipitin : mengendapkan antigen.
3) Antitoksin : menetralkan racun.
4) Lisin : menguraikan antigen.
Antigen yang terdapat dalam sel darah dikenal dengan nama aglutinogen, sedangkan antibodi terdapat di dalam plasma darah dinamakan aglutinin. Aglutinogen membuat sel-sel darah peka terhadap aglutinasi (penggumpalan). Adanya aglutinogen dan aglutinin di dalam darah ini pertama kali ditemukan oleh Karl Landsteiner (1868–1943) dan Donath.

Di dalam darah terdapat dua jenis aglutinogen, yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Berdasarkan ada tidaknya aglutinogen dalam darah, Landsteiner membagi empat macam golongan darah, yaitu darah golongan A, B, AB, dan O. Sistem penggolongan darah ini dinamakan sistem ABO.

PERBANDINGAN LARUTAN, KOLOID DAN SUSPENSI



Sistem koloid berhubungan dengan proses – prose di alam yang mencakup berbagai bidang. Hal itu dapat kita perhatikan di dalam tubuh makhluk hidup, yaitu makanan yang kita makan (dalam ukuran besar) sebelum digunakan oleh tubuh. Namun lebih dahulu diproses sehingga berbentuk koloid. Juga protoplasma dalam sel – sel makhluk hidup merupakan suatu koloid sehingga proses – proses dalam sel melibatkan sitem koloid. Dalam kehidupan sehari-hari ini, sering kita temui beberapa produk yang merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat bercampur secara merata/ homogen. Misalnya saja saat ibu membuatkan susu untuk adik, serbuk/ tepung susu bercampur secara merata dengan air panas. Kemudian, es krim yang biasa dikonsumsi oleh orang mempunyai rasa yang beragam, es krim tersebut haruslah disimpan dalam lemari es agar tidak meleleh. Kesemuanya merupakan contoh koloid.
Udara mengandung juga sistem koloid, misalnya polutan padat yang terdispersi (tercampur) dalam udara, yaitu asap dan debu. Juga air yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut merupakan sistem koloid. Mineral – mineral yang terdispersi dalam tanah, yang dibutuhkan oleh tumbuh – tumbuhan juga merupakan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci berfungsi untuk membentuk koloid antara air dengan kotoran yang melekat (minyak). Campuran logam selenium dengan kaca lampu belakang mobil yang menghasilkan cahaya warna merah merupakan sistem koloid.



Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Dimana di antara campuran homogen dan heterogen terdapat sistem pencampuran yaitu koloid, atau bisa juga disebut bentuk (fase) peralihan homogen menjadi heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang memiliki sifat sama pada setiap bagian campuran tersebut, contohnya larutan gula dan hujan. Sedangkan campuran heterogen sendiri adalah campuran yeng memiliki sifat tidak sama pada setiap bagian campuran, contohnya air dan minyak, kemudian pasir dan semen.
Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.
Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Zat terlarut dinamakan juga dengan fasa terdispersi atau solut, sedangkan zat pelarut disebut dengan fasa pendispersi atau solvent. Contohnya larutan gula atau larutan garam. Suspensi adalah campuran heterogen yang terdiri dari partikel – partikel kecil padat atau cair yang terdispersi dalam zat cair atau gas. Misalnya, tepung beras dilarutkan dalam air dan dikocok dengan kuat; Apabila campuran tersebut dibiarkan beberapa saat, campuran tersebut akan mengendap ke bawah.

 Perbandingan antara larutan, koloid, dan suspensi 
Larutan
(Dispersi Molekuler)
Koloid
(Dispersi Koloid)
Suspensi
(Dispersi Kasar)
Contoh:
larutan gula dalam air
Contoh:
Campuran susu dengan air
Contoh:
Campuran tepung terigu dengan air
  1. Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra
  2. semua partikelnya berdimensi (panjang, lebar atau tebal) kurang dari 1 nm
  3. Satu fase
  4. Stabil
  5. Tidak dapat disaring
  6. Jernih
  7. tidak memisah jika didiamkan
  1. Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra
  2. Partikelnya berdimensi antara 1 nm sampai 100 nm
  3. dua fase
  4. Pada umumnya stabil
  5. tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra
  6. tidak jernih
  7. tidak memisah jika didiamkan
  1. heterogen
  2. Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 nm
  3. dua fase
  4. tidak stabil
  5. dapat disaring
  6. tidak jernih
  7. memisah jika didiamkan





Wednesday, August 21, 2019

Macam- macam Organ reproduksi pria




Sistem reproduksi pria meliputi:

1.      organ-organ reproduksi,
2.       spermatogenesis dan hormon pada pria.


1. Organ Reproduksi
            Organ reproduksi terdiri atas organ reproduksi luar dan dalam

a. Organ Reproduksi Dalam

1. Testis
Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum). Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan kanan.
Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos.

Testis adalah kelenjar penghasil gamet, sedikit cairan mani dan hormon. Karena itu, alat ini disebut kelenjar utama. Manusia (pria) mempunyai dua testis yang dibungkus dengan skrotum. Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Fenomena ini dikenal dengan refleks kremaster. Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan dari sel Sertoli. Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan struktur anatomis pembuluh darah pada testis kiri dan kanan. Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin, yaitu : memproduksi sperma (spermatozoa) dan memproduksi hormon seks pria seperti testosteron.Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang. Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut sel intersisial Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon testosteron.Sawar darah testis Molekul besar tidak dapat menembus ke lumen (bagian dalam tubulus) melalui darah, karena adanya ikatan yang kuat antar sel Sertoli. Fungsi dari sawar darah testis adalah untuk mencegah reaksi auto-imun. Tubuh dapat membuat antibodi melawan spermanya sendiri, maka hal ini dicegah dengan sawar. Bila sperma bereaksi dengan antibodi akan menyebabkan radang testis dan menurunkan kesuburan.

2. Saluran Pengeluaran
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens.
3. Vas deferens
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
4. Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.
5. Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.


6. Kelenjar Asesoris
Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.

a. Vesikula seminalis
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
b.  Kelenjar prostat
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
c.  Kelenjar Cowper
Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

b. Organ Reproduksi Luar
1.  Penis
Organ reproduksi luar pria terdiri dari penis dan skrotum Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).


2.Skrotum
            Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil. Proses pembentukan sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah daripada suhu tubuh

2.1 Spermatogenesis
Spermatogenesis terjadi di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel – sel spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi member nutrisi pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminiferus terdapat pula sel leydig yang mengsekresikan hormone testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis
 Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis.
Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.


Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid. Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak berpasangan). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma). Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
       Pada manusia proses spermatogenesis berlangsung setiap hari. Siklus spermatogenesis berlangsung rata – rata 74 hari. Artinya , perkembangan sel spermatogonia menjadi spermatozoa matang memerlukan waktu rata – rata 74 hari. Sementara itu pemasakan spermatosit menjadi sperma memerlukan waktu dua hari. Proses pemasakan spermatosit menjadi sperma dinamakan spermatogenesis dan terjadi didalam epididimis. Pada pria dewasa normal, proses spermatogenesis terus berlangsung sepanjang hidup, walaupun kualitas dan kuantitasnya makin menurun dengan bertambahnya usia.                  


Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom. Akrosom mengandung enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum.
Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma. Badan sperma banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi untuk pergerakan sperma. Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis.


2.2 Bagian – Bagian Sperma
       Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah dan ekor (flagelata. Kepala sperma mengandung nucleus. Bagian ujung kepala ini mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan – lapisan sel telur pada waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber energy untuk pergerakan sperma. Ekor sperma berfungsi sebagai alat gerak.   


3. Hormon pada Pria
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan,
3.1. Testosteron
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.
3.2.. LH (Luteinizing Hormone)
LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron
3.3. FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.
3.4. Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.
3,5, Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

4. Gangguan pada Sistem Reproduksi Pria
4,1,Hipogonadisme. Hipogonadisme adalah penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi dan tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon.
4.2.Kriptorkidisme. Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut dapat ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan.
4.3. Uretritis Uretritis adalah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum atau virus herpes.
4.4.Prostatitis Prostatitis adalah peradangan prostat. Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti Escherichia coli maupun bukan bakteri.
4.5. Epididimitis Epididimitis adalah infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Organisme penyebab epididimitis adalah E. coli dan Chlamydia.
4.6. Orkitis. Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas.                                  


Monday, August 19, 2019

PENGOBATAN PENYAKIT GONDONGAN DENGAN HERBAL


Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.
Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik, Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-12 tahun. Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya.Adapun mereka yang beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid dan mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh.
Penularan Penyakit Gondongan
Penyakit Gondong (Mumps atau Parotitis) penyebaran virus dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari pertama sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar.
Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh anti bodi yang baik. Seseorang yang pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.
Tanda dan Gejala Penyakit Gondongan

Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.




Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat digambarkan sdebagai berikut :



Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong mengalami gejala: demam (suhu badan 38.5 – 40 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka mulut).
Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami pembengkakan.
Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis.
Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada pria akil balik adalanya terjadi pembengkakan buah zakar (testis) karena penyebaran melalui aliran darah.

Diagnosis Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis)

Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeirksaan fisis, termasuk keterangan adanya kontak dengan penderita penyakit gondong (Mumps atau Parotitis) 2-3 minggu sebelumnya. Selain itu adalah dengan tindakan pemeriksaan hasil laboratorium air kencing (urin) dan darah.
Pemeriksaan Laboratorium
Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relative, didapatkan pula kenaikan kadar amylase dengan serum yang mencapai puncaknya setelah satu minggu dan kemudian menjadi normal kembali dalam dua minggu.




Jika penderita tidak menampakkan pembengkakan kelenjar dibawah telinga, namun tanda dan gejala lainnya mengarah ke penyakit gondongan sehingga meragukan diagnosa. Dokter akan memberikan order untuk dilakukannya pemeriksaan lebih lanjut seperti serum darah. Sekurang-kurang ada 3 uji serum (serologic) untuk membuktikan spesifik mumps antibodies: Complement fixation antibodies (CF), Hemagglutination inhibitor antibodies (HI), Virus neutralizing antibodies (NT).
Komplikasi Akibat Penyakit Gondongan
Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa penyulit, tetapi kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat menyerang organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika infeksi terjadi setelah masa pubertas.
Dibawah ini komplikasi yang dapat terjadi akibat penanganan atau pengobatan yang kurang dini :
Orkitis ; peradangan pada salah satu atau kedua testis. Setelah sembuh, testis yang terkena mungkin akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis yang permanen sehingga terjadi kemandulan.
Ovoritis : peradangan pada salah satu atau kedua indung telus. Timbul nyeri perut yang ringan dan jarang menyebabkan kemandulan.
Ensefalitis atau meningitis : peradangan otak atau selaput otak. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku kuduk, mengantuk, koma atau kejang. 5-10% penderita mengalami meningitis dan kebanyakan akan sembuh total. 1 diantara 400-6.000 penderita yang mengalami enserfalitis cenderung mengalami kerusakan otak atau saraf yang permanen, seperti ketulian atau kelumpuhan otot wajah.
Pankreatitis : peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama. Penderita merasakan mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan menghilang dalam waktu 1 minggu dan penderita akan sembuh total.
Peradangan ginjal bisa menyebabkan penderita mengeluarkan air kemih yang kental dalam jumlah yang banyak
Peradangan sendi bisa menyebabkan nyeri pada satu atau beberapa sendi.




Pengobatan Penyakit Gondongan

Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas dan kelenjar (parotis) membengkak. Dapat digunakan obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan analgesik) misalnya Parasetamol dan sejenisnya, Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye (Pengaruh aspirin pada anak-anak).
Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat tirah baring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres Es pada area testis yang membengkak tersebut. Sedangkan penderita yang mengalami serangan virus apada organ pancreas (pankreatitis), dimana menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.
Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis. Terhadap virus itu sendiri tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba, sehingga Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik dengan sendirinya.
Penyakit gondongan sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yg sembuh sendiri tanpa diobati). Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak.Jika pada jaman dahulu penderita gondongan diberikan blau (warna biru untuk mencuci pakaian), sebenarnya itu secara klinis tidak ada hubungannya. Kemungkinan besar hanya agar anak yang terkena penyakit Gondongan ini malu jika main keluar dengan wajah belepotan blau, sehingga harapannya anak tersebut istirahat dirumah yang cukup untuk membantu proses kesembuhan.
Pencegahan Penyakit Gondongan (Mumps/Parotitis)
Pemberian vaksinasi gondongan merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak, yaitu imunisasi MMR (mumps, morbili, rubela) yang diberikan melalui injeksi pada usia 15 bulan.Imunisasi MMR dapat juga diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang belum menderita Gondong. Pemberian imunisasi ini tidak menimbulkan efek apanas atau gejala lainnya. Cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar Iodium, dapat mengurangi resiko terkena serangan penyakit gondongan.
 
Ramuan Herbal untuk Penyakit Gondongan ::
•5 gram adas
•10 gram kencur
•20 gram kunyit
•10 gram temu ireng
•20 gram temulawak
•10 gram Tapak Dara
Cara Membuat :
Cuci bersih bahan.kemudian masukkan dalam panci enamel/kuali tanah takaran 3 gelas air. rebus jadikan 1/2 nya. Saring minum pagi dan malam hari . Jangan lupa berdoa selalu. Bisa tambahkan madu.



Tuesday, January 10, 2017

transport membran

Transport membran dibedakan menjadi :
 
a. Transportasi pasif

Transpor pasif tidak melibatkan energi apapun pada bagian sel. Transpor pasif, atau difusi, terjadi ketika ada konsentrasi tinggi zat di luar sel dan konsentrasi rendah dari bahan dalam sel. Substansi berdifusi ke dalam sel melalui membran sel dalam upaya untuk menyeimbangkan konsentrasi zat. Salah satu contoh transpor pasif adalah ketika oksigen dan karbon dioksida yang menyebar melintasi membran alveolar-kapiler dalam sel paru-paru. Transpor pasif memerlukan protein pembawa. Molekul yang lebih besar diangkut oleh protein pembawa transmembran, seperti permeases yang mengubah konformasi mereka sebagai molekul dilakukan melalui, misalnya glukosa atau asam amino . Molekul non-polar, seperti retinol atau lipid yang sukar larut dalam air. Mereka diangkut melalui kompartemen berair sel atau melalui ruang ekstraseluler oleh operator larut dalam air sebagai retinol binding protein . Metabolit tidak berubah karena tidak ada energi yang dibutuhkan untuk difusi difasilitasi. Hanya permease berubah bentuk dalam rangka untuk mengangkut metabolit. Bentuk transportasi melalui membran sel yang memodifikasi metabolitnya adalah translokasi kelompok transportasi.

Glukosa, ion natrium dan ion klorida hanya beberapa contoh molekul dan ion yang efisien harus melintasi membran plasma tetapi yang lapisan ganda lipid membran hampir kedap. Transportasi mereka karena itu harus "difasilitasi" oleh protein yang span membran dan memberikan rute alternatif atau bedah bypass.

b. Transportasi aktif 

Transpor aktif membutuhkan sel untuk menggunakan energi-biasanya dalam bentuk ATP-karena melewati molekul melawan gradien konsentrasi. Untuk membuat molekul ini berjalan melawan arus, sel menggunakan adenosin trifosfat (ATP) untuk mengaktifkan protein pembawa yang membantu membran sel lulus molekul melalui. Salah satu contoh transport aktif adalah sel usus manusia mengambil glukosa.

Difusi sederhana

Difusi sederhana sangat mirip dengan transpor pasif tapi tanpa protein pembawa. Molekul mengalir deras dari daerah konsentrasi tinggi ke daerah konsentrasi rendah melalui membran semipermeabel sel. Contoh dari proses ini adalah osmosis, di mana air mengalir ke dalam sel untuk menyeimbangkan konsentrasi air dalam lingkungan sel. Sel-sel hewan yang ditempatkan di dalam terlalu banyak air akan meledak dari osmosis, tetapi sel-sel tanaman tidak meledak karena stabilisasi dinding sel sel tanaman.

Pengertian Uniport, symport dan antiport berserta contohnya.

Uniporter adalah suatu protein membran terpisahkan yang terlibat dalam difusi difasilitasi . Mereka dapat berupa saluran atau protein pembawa .

Protein pembawa Uniporter bekerja dengan mengikat satu molekul dari zat terlarut pada waktu dan mengangkutnya dengan gradien zat terlarut .Saluran Uniporter terbuka dalam menanggapi rangsangan dan memungkinkan aliran bebas molekul tertentu. Uniporters tidak dapat memanfaatkan energi selain gradien zat terlarut. Dengan demikian mereka hanya dapat mengangkut molekul dengan gradien zat terlarut, dan bukan melawannya.

Ada beberapa cara di mana pembukaan saluran uniporter dapat diatur:

1. Tegangan - Diatur oleh perbedaan tegangan melintasi membran

2. Stres - Diatur oleh fisik tekanan pada transporter (seperti dalam koklea dari telinga )

3. Ligan - Diatur oleh pengikatan ligan ke salah satu sisi intraseluler atau ekstraseluler dari sel

Uniporters terlibat dalam banyak biologis proses, termasuk transmisi impuls dalam neuron . Tegangan-gated saluran natrium yang terlibat dalam propagasi dari impuls saraf di neuron. Selama transmisi sinyal dari satu neuron ke berikutnya, kalsium diangkut ke dalam neuron presynaptic oleh tegangan-gated saluran kalsium . saluran kebocoran Kalium , juga diatur oleh tegangan, kemudian membantu untuk mengembalikan istirahatpotensial membran setelah transmisi impuls.

Di telinga, gelombang suara menyebabkan saluran stres diatur di telinga untuk membuka, mengirim impuls ke saraf vestibulocochlear (VIII)

Contoh :

1. GLUT1 - transporter glukosa didistribusikan secara luas

Glukosa angkutan uniporter antara dua molekul konformasi.

Aliran bersih, dibatalkan pada saat konsentrasi perubahan glukosa



2. GLUT4 - insulin glukosa diatur primer transporter dalam otot dan jaringan adiposa



3. UCP - uncoupler proton gradien di mitokondria (termogenin)

gradien proton Biasanya dihasilkan selama fosforilasi oksidatif dalam mitokondria adalah digabungkan untuk sintesis ATP (F jenis pompa).

antiporter (jugadisebut penukar atau counter-transporter) merupakan protein membran terpisahkan terlibat dalam transpor aktif sekunder dari dua atau lebih molekul yang berbeda atau ion (yaitu, zat terlarut) melintasi membran fosfolipid seperti membran plasma dalam arah yang berlawanan.

Dalam transpor aktif sekunder , salah satu spesies bergerak terlarut di sepanjang gradien elektrokimia, yang memungkinkan spesies yang berbeda untuk bergerak melawan gradien elektrokimia nya sendiri. Gerakan ini berbeda dengan transpor aktif primer , di mana semua zat terlarut yang bergerak melawan gradien konsentrasi mereka, didorong oleh ATP .

Contoh

1. NHE-1 - Na + / H + antiporter dalam ginjal dan usus epitel

Pada pH sitosol, Pertukaran 1 Na +, untuk 1 H +

Na + masuk secara alami H + keluar

2. Band 3 protein - HCO3-/ Cl-dalam eritrosit

Salah satu untuk satu pertukaran anion, situs pengikatan anion yang baik di luar atau dalam membran, tetapi tidak pernah pada yang sama sis. Passage anion terhadap gradient meregenerasi keadaan konformasi disukai

· CO2 transportasi melalui eritrosit

Pada CO2 sirkulasi sistemik berdifusi ke darah merah sel karbonik anhidrase mengubahnya menjadi bikarbonat ion, keluar ion bikarbonat melalui band 3 protein untuk darah untuk dibawa ke paru-paru. Pada paru arah dibalik siklus kemiosmotik ion fluks. Pasangan melalui pompa dan operator untuk mempertahankan homeostasis. Kation pompa pengangkutan dan transportasi dari substrat oleh operator.

3. Natrium-kalsium exchanger (sering dilambangkan Na + / Ca 2 + exchanger, NCX, atau pertukaran protein) adalah antiporter protein membranyang menghilangkan kalsium dari sel. Ia menggunakan energi yang disimpan dalam gradien elektrokimia natrium (Na +) dengan memungkinkan Na +mengalir menuruni gradien melintasi membran plasma dalam pertukaran untuk countertransport dari kalsium ion (Ca 2 +). NCX mengambil sebuah ion kalsium tunggal dalam pertukaran untuk impor tiga ion natrium. penukar ini ada di banyak jenis sel yang berbeda dan spesies hewan. NCX ini dianggap sebagai salah satu mekanisme seluler yang paling penting untuk menghapus Ca 2 +. Exchanger biasanya ditemukan dalam membran plasma dan mitokondria dan retikulum endoplasma sel bersemangat. 

Symporter adalah suatu protein membran terpisahkan yang terlibat dalam gerakan dua atau lebih molekul yang berbeda atau ion melintasi membran fosfolipid seperti membran plasma ke arah yang sama, dan karena itu, jenis cotransporter . Biasanya, ion (s) akan bergerak ke bawah gradien elektrokimia, yang memungkinkan molekul lainnya (s) untuk bergerak melawan gradien konsentrasi. Pergerakan ion (s) melintasi membran difusi difasilitasi , dan ditambah dengan transpor aktif dari molekul (s). Meskipun dua atau lebih jenis molekul diangkut, mungkin ada beberapa molekul diangkut masing-masing jenis.

Contoh : 

SGLT1 di epitel usus mengangkut ion natrium (Na +) dan glukosa melintasi membran luminal sel-sel epitel sehingga dapat diserap ke dalam aliran darah. Ini adalah dasar dari terapi rehidrasi oral . Jika symporter ini tidak ada, saluran natrium individu dan uniporters glukosa tidak akan dapat mentransfer glukosa melawan gradien konsentrasi dan ke dalam aliran darah.

Na + / K + / 2Cl - symporter di lengkung Henle dalam tubulus ginjal dari ginjal mengangkut 4 molekul dari 3 jenis yang berbeda, ion natrium (Na +), ion kalium (K +) dan dua ion klorida (2Cl -).Loop diuretik seperti furosemide (Lasix) bertindak atas protein ini.

Monday, January 9, 2017

Morfologi Tanaman Jati Putih (Gmelina arborea Roxb)

Gambar benih jati putih by ASM

Jati putih

 Morfologi Tanaman Jati Putih (Gmelina arborea Roxb)
        Tanaman jati putih (Gmelina arborea) berupa pohon ukuran sedang, tinggi dapat mencapai lebih (30- 40) m, batang silindris, diameter rata-rata 50 cm kadang-kadang mencapai 140 cm. Kulit halus atau bersisik, warna coklat muda sampai abu-abu. Ranting halus licin atau berbulu halus. Bunga kuning terang, mengelompok dalam tandan besar (30-350 bunga per tandan). Bentuk daun bergerigi, menyerupai jantung dan berukuran 10-25 cm x 5-18 cm (Mulyana dan Asmarahman, 2010). Bunga sempurna, panjang mencapai lebih 25 mm, berbentuk tabung dengan 5 helai mahkota . Bunga mekar malam hari. Penyerbukan umumnya dilakukan lebah.

Penyebaran
        Jati putih menyebar secara alami di Nepal, India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam dan Cina Selatan. Di hutan alam jenis ini selalu tersebar dan berkelompok dengan jenis lain. Dijumpai di hutan yang selalu hijau di Myanmar dan Bangladesh, dan hutan kering menggugurkan daun di India Tengah. Tanaman ini sudah ditanam luas di berbagai negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, Afrika Barat dan Amerika Selatan.  

Pemanfaatan
        Jati putih (Gmelina arborea) dimanfaatkan terutama sebagai bahan konstruksi ringan dan pulp. Beberapa bagian pohon dapat digunakan untuk obat dan daunnya untuk pakan ternak. 


sumber  

Mulyana, Dadan., dan Asmarahman, ceng. 2010 . “ 7 Jenis Kayu Penghasil Rupiah “. Jakarta : AgroMedia pustaka